Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Trump Tunda Kenakan Tarif Impor Mobil dan Suku Cadang

Kamis 16 May 2019 12:22 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nidia Zuraya

Produk industri otomotif AS.

Produk industri otomotif AS.

Foto: voa
Keputusan penundaan ini disambut baik oleh pasar saham Amerika Serikat

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump siap untuk menunda keputusan mengenakan tarif terhadap industri otomotif hingga enam bulan ke depan. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya menghindari adanya ‘ledakan’ dalam negosiasi dengan Uni Eropa dan Jepang.

Trump telah menghadapi tenggat waktu hingga 18 Mei mendatang untuk memutuskan bagaimana melanjutkan ancamannya dalam mengenakan tarif sebanyak 25 persen pada mobil impor dan suku cadang. Ancaman ini dilakukan sebagai apa yang disebut oleh pria berusia 72 tahun itu menjaga keamanan nasional AS.

Keputusan untuk menunda pemberlakuan tarif terhadap industri otomotif hingga enam bulan ke depan disambut oleh pasar saham yang terpukul dengan kekhawatiran sejak pekan lalu. Sebelumnya, S&P dilaporkan mengurangi kerugian sebanyak 0,7 persen dan diperdagangkan 0,6 persen lebih tinggi di New York pada pukul 11.49.

Saham BMW AG melonjak sebanyak 5 persen. Demikian dengan beberapa perusahaan otomotif lainnya seperti Ford Motor Co, General Motors Co, dan Fiat Chrysler Automobiles yang  juga mengalami kenaikan.

Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Selasa (14/5), para pejabat menegaskan keputusan untuk menunda tarif hingga 180 hari. Keputusan diharapkan dapat diumumkan ke publik sebelum akhir pekan ini. Meski demikian, belum ada komentar resmi mengenai hal ini.

Pada tahun lalu, Trump memerintahkan penyelidikan kepada Departemen Perdagangan apakah mobil dan suku cadang impor merupakan ancaman bagi keamanan nasional AS. Ia kemudian mendapatkan laporan akhir yang menguraikan serangkaian rekomendasi pada Februari. Namun, temuan itu tidak dipublikasikan untuk umum.

Menurut orang-orang yang telah melihat laporan itu, pembenaran untuk tarif industri otomotif bukanlah bahwa impor kendaraan dan suku cadang atau onderdil merupakan ancaman bagi keamanan nasional AS. Namun, bagian yang mereka kontribusikan terhadap keseluruhan defisit perdagangan Negeri Paman Sam, yang berarti dapat menyebabkan kerugian.

"Alasan mengapa sektor otomotif sangat penting bagi perdagangan kami adalah karena sekitar setengah dari defisit perdagangan berasal dari produk tunggal, otomotif, dan sekitar separuh lainnya dari Cina,” ujar Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross dilansir Bloomberg, Kamis (16/5).

Dalam pertemuan tertutup dengan negara-negara asing, serta perwakilan perusahaan otomotif, Pemerintah AS mengindikasikan bahwa Trump akan menunda keputusannya. Ia juga akan memiliki tugas-tugas yang dipastikan tak akan menggagalkan negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung.

Sejumlah penasihat Trump telah memperingatkan bahwa langkah terhadap tarif otomatis dapat membuat resiko dari Kongres AS. Partai Republik yang mengusung Trump sendiri telah mengancam untuk melangkah maju dengan undang-undang yang membatasi otoritas tarif presiden.

Selama berbulan-bulan, penasihat Trump telah memperdebatkan strategi untuk menunda tenggat waktu. Mereka juga menyatakan bahwa memberlakukan tarif terhadap industri otomotif yang luas akan menggagalkan pembicaraan perdagangan dengan sejumlah negara, tak hanya Jepang dan Uni Eropa tetapi juga lewatnya Perjanjian Meksiko Kanada AS melalui Kongres.

Perwakilan industri otomotif telah bekerja erat dengan USTR dan Gedung Putih untuk secara terbuka menggembar-gemborkan manfaat USMCA. Selain itu, studi Gedung Putih yang menetapkan kenaikan pekerjaan yang diharapkan jika kesepakatan itu disetujui oleh Kongres dan dilaksanakan sepenuhnya juga telah didukung.

AS telah mengimpor 191,7 miliar dolar AS untuk mobil dan truk ringan pada 2018 dengan lebih dari 90 miliar dolar AS impor tersebut berasal dari Kanada dan Meksiko, yang bebas bea beradasarkan perjanjian Nafta. Mobil penumpang saat ini dikenakan tarif 2,5 persen tarif dan Trump mengancam untuk menaikannya menjadi 25 persen dengan alasan bahwa Uni Eropa dan negara-negara lain memiliki hambatan yang lebih tinggi terhadap ekspor mobil AS.

Tarif baru yang dikenakan untuk mobil impor dari Jepang, Korea Selatan, dan Eropa menjadi hal yang paling. Hal ini berpengaruh untuk banyak hal, seperti pasokan banyak produsen dalam negeri yang mengandalkan suku cadang impor dan produsen mobil asing dengan operasi manufaktur

Tarif pada mobil Eropa yang diimpor ke AS akan secara tidak proporsional merugikan merek Porsche dan Audi Volkswagen AG. Hal itu karena Porsche mengimpor semua mobil yang dijual di AS dari Eropa, sementara Audi mengimpor lebih dari dua pertiga, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg Intelligence.

Kemudian Mercedes Daimler AG juga akan terpengaruh, karena 64 persen dari mobil yang dijual di AS berasal dari Eropa. BMW AG akan sedikit lebih baik, dengan lebih dari setengah mobil AS dibuat secara lokal.

National Automobile Dealers Association memperkirakan bahwa tarif akan menambah sebanyak 2.270 dolar AS untuk biaya mobil buatan AS. Kemudian dengan 6.875 dolar AS untuk biaya mobil dan truk yang diimpor.

"Kami sangat prihatin bahwa pemerintah terus mempertimbangkan untuk mengenakan tarif mobil. Pada akhirnya, Anda dapat memiliki tarif atau investasi, namun tidak keduanya,” ujar pernyataan Aliansi Produsen Mobil, sebuah kelompok perdagangan yang mewakili pembuat mobil domestik dan asing terbesar yang beroperasi di AS.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA