Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Harga Minyak Berbalik Melonjak Delapan Persen

Kamis 27 Dec 2018 06:34 WIB

Red: Friska Yolanda

Ilustrasi kilang minyak

Ilustrasi kilang minyak

Foto: AP Photo/J David Ake
Kenaikan terjadi setelah harga minyak berada di level terendah sejak 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak melonjak pada akhir perdagangan Rabu (26/12) waktu setempat membukukan kenaikan harian terkuat dalam lebih dari dua tahun sekaligus. Kenaikan ini terjadi setelah penurunan tajam yang menekan minyak mentah ke posisi terendah sejak 2017.

Minyak mentah AS dan Brent naik sekitar delapan persen. Kenaikan satu hari ini merupakan yang terbesar sejak 30 November 2016, ketika OPEC menandatangani perjanjian penting untuk memangkas produksi.

Belum jelas apakah pembelian lebih lanjut akan mendorong harga lebih tinggi lagi, setelah meja-meja perdagangan dipenuhi lebih banyak staf setelah tahun baru dimulai.

Minyak mentah telah terperangkap dalam pelemahan pasar yang lebih luas karrna sejumlah isu negatif. Penutupan pmerintah Amerika Serikat adalah salah satunya, kemudian tingkat suku bunga AS yang lebih tinggi dan perselisihan perdagangan AS-Cina mencemaskan para para investor dan memperburuk kekhawatiran atas pertumbuhan global.

"Pasar masih benar-benar mengkhawatirkan permintaan," kata Bernadette Johnson, wakil presiden intelijen pasar di DrillingInfo di Denver.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, menetap di 46,22 dolar AS per barel, naik 3,69 dolar AS, atau 8,7 persen. Sekalipun dengan kenaikan hari itu, minyak mentah AS masih kehilangan hampir 40 persen dari penutupan tertinggi Oktober di lebih posisi lebih dari 76 dolar AS per barel.

Sementara itu, patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari, naik 4,0 dolar AS atau 8,0 persen, menjadi 54,47 dolar AS per barel. Brent sebelumnya jatuh ke posisi 49,93 dolar AS, terendah sejak Juli 2017.

Penjualan baru-baru ini terasa kurang didorong secara fundamental dan lebih merupakan fungsi dari krisis pasar secara keseluruhan. "Ini karena meningkatnya volatilitas ekuitas dan meningkatnya kekhawatiran makro telah membebani sejumlah kelas-kelas aset," tulis analis di Tudor, Pickering & Holt.

Kepala perusahaan minyak Rusia Rosneft, Igor Sechin, memprediksi harga minyak mencapai kisaran 50 dolar AS hingga 53 dolar AS pada 2019. Prediksi ini jauh dari tertinggi empat tahun di 86 dolar AS untuk minyak mentah Brent yang dicapai awal tahun ini.

Meski demikian, prospek minyak tidak selemah pada 2016 ketika kelebihan pasokan meningkat, karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) kali ini mencoba menopang pasar, kata Jakob. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu-sekutunya termasuk Rusia memutuskan awal bulan ini untuk memangkas produksi pada 2019, membatalkan keputusan Juni untuk memompa lebih banyak minyak. Grup gabungan berencana untuk menurunkan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari pada tahun depan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA