Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Pasar Saham AS Turun Terimbas Kejatuhan Lira Turki

Selasa 14 Aug 2018 06:53 WIB

Red: Nidia Zuraya

Wall Street

Wall Street

Foto: AP Photo/Richard Drew
Kegelisahan pasar global atas kejatuhan mata uang lira Turki menyebar ke Wall Street

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Saham-saham AS turun pada penutupan perdagangan Senin (13/8) atau Selasa (14/8) pagi WIB. Kegelisahan global dari kejatuhan mata uang lira Turki menyebar ke Wall Street, dengan S&P 500 dan Dow jatuh untuk sesi keempat berturut-turut.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 125,44 poin atau 0,50 persen, menjadi berakhir di 25.187,70 poin. Indeks S&P 500 turun 11,35 poin atau 0,40 persen, menjadi menetap di 2.821,93 poin.

Indeks Komposit Nasdaq berakhir turun 19,40 poin atau 0,25 persen, menjadi 7.819,71 poin. Saham-saham keuangan menanggung beban ketakutan penularan Turki, dengan saham Citigroup Inc, Bank of America Corp, Wells Fargo & Co dan JPMorgan Chase & Co ditutup turun antara 0,8 persen hingga 2,2 persen.

Janji bank sentral Turki untuk menstabilkan kemerosotan mata uang lira gagal menenangkan kegelisahan para investor. Mata uang lira telah turun 40 persen terhadap dolar AS sejauh tahun ini.

"Pasar-pasar semua tentang Turki dan kelanjutan dari masalah-masalah perdagangan di luar sana," kata Gary Bradshaw, manajer portofolio Hodges Funds di Dallas.

"Pasar pastinya ingin bergerak lebih tinggi, tetapi kami memiliki beberapa kurva yang dilemparkan kepada kami di sepanjang periode tersebut, yang telah menyebabkan beberapa kemunduran dari hari ke hari," jelasnya.

Tetapi saham Apple Inc mencapai titik tertinggi sepanjang masa karena perusahaan pertama dengan nilai pasar satu triliun dolar AS yang tercatat di AS itu, melanjutkan reli pasca-laba. Saham Apple berakhir naik 0,6 persen.

Amazon.com juga mencatat rekor tertinggi, mencapai 1.925 pdolar AS er saham. Saham Amazon.com ditutup 0,5 persen lebih tinggi.

Musim laporan laba perusahaan kuartal kedua mendekati garis akhir. Dari 455 perusahaan di S&P 500 yang telah melaporkan labanya sejauh ini, 79 persen telah mengalahkan perkiraan para analis, menurut Thomson Reuters.

Indeks Volatilitas CBOE, ukuran kecemasan investor, meningkat untuk sesi ketiga berturut-turut ke tingkat tertinggi dalam lebih dari sebulan. Netflix Inc mengumumkan kepergian direktur keuangan David Wells. Saham perusahaan layanan streaming itu pun turun 1,3 persen.

Pembuat sepeda motor Harley-Davidson Inc meluncur turun 4,3 persen, setelah Presiden Donald Trump men-tweet dukungan untuk memboikot perusahaan tersebut.

Saham Rite Aid Corp jatuh ke posisi terendah lebih dari lima tahun, memperpanjang kerugiannya setelah jaringan ritel toko obat ini menyelesaikan penggabungannya dengan Albertsons. Saham Rite Aid Corp ditutup jatuh 5,4 persen.

Di antara saham-saham yang menguat, saham Tesla Inc naik tipis 0,3 persen. Kepala Eksekutif Tesla Elon Musk mengatakan dia sedang dalam pembicaraan dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) Saudi Arabia dan pendukung potensial lainnya atas rencana privatisasi produsen mobil listrik itu, tetapi ia mengatakan pembiayaannya belum diputuskan.

Musk mengaku ingin mengamankan perusahaan pembuat mobil listrik itu keluar dari silau Wall Street. Agar salah satu perusahaan yang didirikannya mampu melewati periode pertumbuhan yang cepat, namun berada di bawah terbatasnya sumber daya keuangan.

Nielsen Holdings melonjak 12,1 persen setelah aktivis hedge fund Elliott Management mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengambil alih perusahaan media dan riset konsumen tersebut. Saham-saham menurun melebihi jumlah yang meningkat di NYSE dengan rasio 2,09-terhadap-1 dan di Nasdaq dengan rasio 1,88-terhadap-1.

S&P 500 membukukan tingkat 12 tertinggi baru dan 8 terendah baru dalam 52 minggu terakhir, dan Komposit Nasdaq mencatat 65 tertinggi baru dan 111 terendah baru. Volume transaksi di bursa AS mencapai 6,34 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 6,43 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.

Sumber : Antara/Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA