Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Kejatuhan Pasar Saham AS Berlanjut

Jumat 02 Mar 2018 08:15 WIB

Red: Nidia Zuraya

Bursa saham di Wall Street

Bursa saham di Wall Street

Foto: AP
Kejatuhan Wall Street karena kebijakan AS untuk menerapkan tarif impor baja.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Saham-saham Wall Street jatuh untuk hari ketiga berturut-turut pada akhir perdagangan Kamis (1/3) atau Jumat (2/3) pagi WIB. Kejatuhan pasar saham utama AS ini berlanjut setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan menerapkan tarif pada impor baja dan aluminium mulai minggu depan.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 420,22 poin atau 1,68 persen menjadi ditutup pada 24.608,98 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 36,16 poin atau 1,33 persen menjadi berakhir di 2.677,67 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 92,45 poin atau 1,27 persen menjadi 7.180,56 poin.

Trump mengatakan pada Kamis (1/3) bahwa dia akan mengenakan tarif impor baja dan aluminium, untuk melindungi industri AS, namun para ahli mengatakan langkah tersebut dapat merugikan produsen-produsen AS dan menghadapi tantangan hukum dari mitra-mitra dagang. AS menetapkan tarif 25 persen untuk produk impor baja dan 10 persen untuk aluminium pada awal minggu depan, kata Trump setelah bertemu dengan para eksekutif bisnis di Gedung Putih.

Daniel Ikenson, seorang rekan senior di Cato Institute, mengatakan pada Kamis (1/3) bahwa pembatasan perdagangan dapat merugikan produsen-produsen AS dengan mengekspos mereka ke kompetisi dari para pesaing asing dengan biaya produksi lebih rendah yang mampu menawarkan harga lebih murah di pasar AS.

Saham Ford Motor dan General Motors jatuh lebih dari tiga persen pada penutupan. Boeing, Cummins dan United Technologies - pengguna baja dan aluminium lainnya - juga mengakhiri hari perdagangan dengan penurunan tajam.

Namun, saham-saham baja dan aluminium diperdagangkan menguat tajam setelah pengumuman tersebut, dengan US Steel, AK Steel dan Century Aluminum, masing-masing melonjak lima persen, sembilan persen dan tujuh persen.

Para investor juga terus mengawasi Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Dia mengatakan kepada Komite Perbankan Senat pada Kamis (1/3) bahwa dia tidak melihat bukti menentukan bahwa penurunan stabil dalam pengangguran dan kurang kendornya pasar tenaga kerja telah menyebabkan kenaikan upah. Pada Selasa (27/2), ketua Fed baru tersebut memberi isyarat dalam kesaksian kebijakan moneter pertamanya, bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga lebih dari tiga kali tahun ini, jika data ekonomi dan inflasi terus terbukti sehat.

Di sisi ekonomi, pendapatan pribadi AS meningkat 64,7 miliar dolar AS atau 0,4 persen pada Januari, di atas konsensus pasar untuk kenaikan 0,3 persen, Departemen Perdagangan mengatakan pada Kamis (1/3). Pada Januari, pendapatan pribadi disposal meningkat 134,8 miliar dolar AS atau 0,9 persen, sementara pengeluaran konsumsi pribadi meningkat 31,2 miliar dolar AS atau 0,2 persen.

Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan dalam pekan yang berakhir 24 Februari bahwa angka pendahuluan untuk klaim pengangguran awal disesuaikan secara musiman mencapai 210 ribu. Ini merupakan angka terendah sejak 6 Desember 1969 ketika mencapai 202 ribu.

sumber : Antara/Xinhua
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA