Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Pasar Saham AS Anjlok

Rabu 28 Feb 2018 08:20 WIB

Red: Nidia Zuraya

Bursa saham di Wall Street

Bursa saham di Wall Street

Foto: AP
Anjloknya Wall Street karena pernyataan pimpinan The Fed terkait kenaikan suku bunga.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Saham-saham AS berakhir lebih rendah pada Selasa (27/2) atau Rabu (28/2) pagi WIB. Akibatnya pasar saham utama AS, Wall Street, mencatat penurunan terbesar harian sejak aksi jual tiga minggu lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 299,24 poin atau 1,16 persen menjadi ditutup di 25.410,03 poin. Indeks S&P 500 mengalami penurunan 35,32 poin atau 1,27 persen menjadi berakhir di 2.744,28 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 91,11 poin atau 1,23 persen menjadi 7.330,35 poin.

Anjloknya Wall Street karena pernyataan Ketua Bank Sentral AS, Federal Reserve (Fed), Jerome Powell membangkitkan kembali kekhawatiran lebih banyak kenaikan suku bunga daripada yang diperkirakan tahun ini. Powell mengatakan dalam kesaksian kebijakan moneter pertamanya pada Selasa (27/2) bahwa meskipun terjadi volatilitas di pasar saham baru-baru ini, gubernur Fed masih berencana untuk menaikkan suku bunga beberapa kali sepanjang 2018.

Dia mengatakan kepada para anggota parlemen "pengurangan secara bertahap kebijakan moneter akomodatif akan menopang pasar tenaga kerja yang kuat sambil mendorong kembalinya inflasi menjadi dua persen." Pimpinan baru The Fed tersebut mengisyaratkan bank sentral bisa menaikkan suku bunga lebih dari tiga kali tahun ini, jika data ekonomi dan inflasi terus terbukti sehat.

Menurut risalah pertemuan kebijakan Fed pada 30 dan 31 Januari, para pejabat Fed telah menjadi lebih percaya diri tentang prospek pertumbuhan dan inflasi. The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya tahun ini pada pertemuan kebijakan berikutnya pada Maret.

Di sisi ekonomi, Departemen Perdagangan mengatakan pada Selasa (27/2) bahwa pesanan baru AS untuk barang tahan lama manufaktur pada Januari turun 9,2 miliar dolar AS, atau 3,7 persen, menjadi 239,7 miliar dolar AS, lebih buruk dari konsensus pasar mengalami penurunan 2,00 persen.

Dalam sebuah laporan terpisah, departemen tersebut mengumumkan bahwa defisit perdagangan internasional pada barang mencapai 74,4 miliar dolar AS pada Januari, naik 2,1 miliar dolar dari angka Desember.

Sumber : Antara/Xinhua
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA