Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Dow Jones Cetak Rekor Penutupan

Kamis 18 Jan 2018 07:47 WIB

Red: Nidia Zuraya

Indeks Dow Jones

Indeks Dow Jones

Foto: higbank.com

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Bursa saham Wall Street menguat pada akhir perdagangan Rabu (17/1) atau Kamis (18/1) pagi WIB, dengan Dow ditutup di atas 26.000 poin untuk pertama kalinya, menyusul rilis laporan laba kuartalan yang lebih kuat dari perkiraan.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 322,79 poin atau 1,25 persen menjadi ditutup di 26.115,65 poin. Indeks S&P 500 meningkat 26,14 poin atau 0,94 persen menjadi berakhir di 2.802,56 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup naik 74,59 poin atau 1,03 persen menjadi 7.298,28 poin.

Musim pelaporan laba perusahaan sejauh ini diawali dengan kuat. Menurut perusahaan riset keuangan FactSet, dari perusahaan-perusahaan komponen S&P 500 yang telah melaporkan keuangannya pada Jumat (12/1), 69 persen telah melampaui perkiraan laba per saham, sementara 85 persen telah mengalahkan ekspektasi di lini teratas.

Bank of America pada Rabu (17/1) melaporkan penyesuaian laba bersih per saham 0,47 dolar AS untuk kuartal keempat tahun lalu, mengalahkan ekspektasi pasar 0,44 dolar AS. Citigroup pada Selasa (16/1) melaporkan laba bersih per saham yang disesuaikan sebesar 1,28 dolar AS untuk kuartal keempat 2017, mengalahkan ekspektasi pasar 1,19 dolar AS.

Sementara itu, saham-saham teknologi mendapat dukungan dari Apple, yang menghapus kerugian setelah mengumumkan rencana untuk berkontribusi terhadap ekonomi AS. Perusahaan tersebut mengatakan akan memberikan kontribusi 350 miliar dolar AS kepada ekonomi AS dalam lima tahun ke depan.

Apple berjanji akan menciptakan 20.000 lapangan kerja baru dan membuka kampus baru. Saham Apple ditutup 1,7 persen lebih tinggi. Para investor juga mempertimbangkan survei Federal Reserve yang baru dirilis mengenai fundamental ekonomi A.S.

Perekonomian AS terus berlanjut dengan laju pertumbuhan sedang hingga moderat pada akhir November hingga awal 2018, dengan pasar tenaga kerja yang ketat namun pertumbuhan upah rendah, menurut survei yang dikenal dengan Beige Book itu. "Prospek untuk 2018 tetap optimis untuk sebagian besar kontak di seluruh negeri," kata laporan tersebut, mencatat bahwa sebagian besar produsen melaporkan pertumbuhan sedang dalam kondisi bisnis secara keseluruhan.

Laporan Rabu (17/1) datang sebelum pertemuan kebijakan Fed berikutnya pada 30-31 Januari. Para analis mengatakan bank sentral akan membiarkan suku bunga acuan tidak berubah pada pertemuan ini karena inflasi AS masih lemah.



sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA