Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Asia Sumbang Mayoritas Pertumbuhan Ekonomi Global, Ini Sebabnya

Kamis 06 Apr 2017 17:00 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nur Aini

Peta Kawasan Asia Timur

Peta Kawasan Asia Timur

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbaikan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di dua pertiga negara-negara di kawasan Asia dan didukung oleh membaiknya harga komoditas global seperti pertambangan dan migas menjadikan kontribusi Asia terhadap pertumbuhan global meningkat. Berdasarkan rilis terbaru Asia Development Bank (ADB), sumbangan pertumbuhan Asia terhadap pertumbuhan ekonomi global mencapai 60 persen.

Selain karena mulai membaiknya harga komoditas, kontribusi pertumbuhan juga didukung oleh permintaan global atas komoditas pertambangan seperti batu bara, CPO, dan minyak bumi yang mulai pulih. ADB memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di Asia dan Pasifik akan mencapai 5,7 persen pada 2017 dan 2018, turun sedikit dari pertumbuhan pada 2016 sebesar 5,8 persen.

Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada menjelaskan, Asia yang sedang berkembang terus mendorong perekonomian global, bahkan ketika kawasan ini menyesuaikan dengan perekonomian Cina yang lebih didorong konsumsi dan di tengah ancaman risiko global.

"Meskipun ada ketidakpastian dalam perubahan kebijakan di negaranegara maju, kami merasa bahwa sebagian besar perekonomian siap untuk menghadapi potensi guncangan jangka pendek," kata Sawada dalam paparannya di Kantor ADB Indonesia, Kamis (6/4).

Sawada mengungkapkan, perekonomian berbasis industri mengalami momentum pertumbuhan yang makin menguat. Ia memandang bahwa Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang akan secara bersama-sama tumbuh 1,9 persen pada 2017 dan 2018. Meningkatnya keyakinan konsumen dan dunia usaha, serta menurunnya tingkat pengangguran diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi AS.

Meski begitu, Sawada menilai bahwa ketidakpastian akan kebijakan ekonomi AS bisa saja mengubah proyeksi ini. "Kawasan euro terus menguat, tetapi proyeksinya sedikit terganggu akibat ketidakpastian seperti Brexit. Sementara itu, Jepang masih bergantung pada kemampuannya mempertahankan pertumbuhan ekspor agar bisa melanjutkan ekspansi," katanya.

Baca juga: ADB Ungkap Kunci Indonesia Lepas dari Jebakan Kelas Menengah

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA