Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Bank Dunia: Pengiriman Uang ke Negara Berkembang Capai Rp 4.625 Triliun

Ahad 13 Apr 2014 16:00 WIB

Rep: Muhammad Iqbal/ Red: Nidia Zuraya

Bank Dunia

Bank Dunia

REPUBLIKA.CO.ID,  WASHINGTON DC -- Bank Dunia mencatat pengiriman uang (remitansi) ke negara-negara berkembang pada 2013 mencapai 404 miliar dolar AS (Rp 4.625,638 triliun). Realisasi ini meningkat 3,5 persen dibandingkan catatan 2012 silam. 

Menurut keterangan Bank Dunia seperti dilansir laman resminya, Ahad (13/4), pertumbuhan remitansi ke negara-negara berkembang dalam tiga tahun ke depan akan meningkat 8,4 persen per tahunnya. Dengan demikian, remitansi pada 2014 akan menembus 436 miliar dolar AS (Rp 4.992 triliun) dan 516 miliar dolar AS (Rp 5.907,993 triliun). 

Meskipun begitu, Bank Dunia mengingatkan sejumlah tantangan yang dapat menghambat pertumbuhan remitansi ke negara-negara berkembang. Salah satunya adalah peningkatan sentimen antiimigran yang berkembang di sejumlah negara maju.

Hal ini terlihat dari tingginya tingkat deportasi imigran. Misalnya saja di Arab Saudi yang telah mendeportasi 370 ribu migran dalam lima bulan sejak November 2013. Kebanyakan mereka berasal dari Ethiopia, Mesir dan Yaman. 

Sedangkan di AS, lebih dari 368 ribu orang migran dideportasi pada 2013. Sebagian besar ditangkap diperbatasan dan para imigran itu berasal dari Meksiko maupun negara-negara Amerika Tengah lainnya.

Selain itu, Bank Dunia juga mengingatkan jatuhnya biaya rata-rata total pengiriman uang pada kuartal pertama 2014. Tahun ini, biayanya turun di bawah 8,4 persen atau lebih rendah dibanding tahun sebelumnya 9,0 persen. Oleh karena itu, Bank Dunia menegaskan pentingnya mempertahankan biaya.

Tak semua biaya rata-rata pengiriman tinggi. Sebagai contoh, biaya rata-rata pengiriman uang ke subsahara Afrika tetap tinggi yaitu sekitar 12 persen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA