Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Dolar di Bawah Tekanan di Asia Setelah Data Pekerjaan AS

Senin 07 Apr 2014 13:15 WIB

Red: Julkifli Marbun

Mata uang Dolar AS.

Mata uang Dolar AS.

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Dolar menghadapi tekanan di Asia Senin karena investor yakin bahwa Federal Reserve tidak akan mempercepat laju pengurangan program stimulus setelah laporan pekerjaan AS pekan lalu sesuai dengan perkiraan.

Greenback diambil 103,25 yen pada perdagangan siang di Tokyo, dibandingkan dengan 103,26 yen pada penutupan di New York tapi jauh di bawah 103,88 yen di Tokyo pada Jumat lalu sebelum data pekerjaan dirilis.

Euro berada di posisi 141,48 yen dibanding 141,50 yen di New York pada Jumat dan 142,36 yen pada di Tokyo, Jumat.

Terhadap dolar, euro diperdagangkan di kisaran 1,3700 dolar, sedikit turun dari 1,3704 dolar di perdagangan AS .

Departemen Tenaga Kerja mengatakan ekonomi nomor satu dunia itu menambah 192.000 pekerjaan Maret - tepat di bawah perkiraan 195.000 - sementara tingkat pengangguran bertahan stabil pada 6,7 persen .

Para analis telah memperkirakan dolar akan rally jika laporan menunjukkan penambahan pekerjaan lebih dari 225.000, tapi akan melemah jika angka yang muncul di bawah 150.000 .

Sementara angka tersebut di mana membaik dalam tiga bulan sebelumnya - yang dilanda musim dingin yang parah - mereka menyarankan sektor pekerjaan masih belum cukup kuat bagi Fed mempercepat pemangkasan program pelonggaran moneter.

Laporan ini juga menunjukkan rata-rata penghasilan per jam naik 2,1 persen dibanding tahun lalu, lebih rendah kenaikannya yakni 2,2 persen pada Februari dibanding prediksi 2,3 persen, kata National Australia Bank.

"Hal ini membuat (ketua Fed) Janet Yellen dengan argumen bahwa masih ada banyak slack dalam pasar tenaga kerja," tambahnya .

Di Tokyo, Bank of Japan memulai pertemuan kebijakan dua hari pada Senin. Kebanyakan analis memperkirakan Fed akan menunda langkah-langkah pelonggaran lebih lanjut sebagai pengukur dampak kenaikan pajak penjualan April - pertama Jepang dalam 17 tahun- di tengah pemulihan ekonomi negara tersebut.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA