Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Huawei Pecat Karyawan yang Ditahan di Polandia

Ahad 13 Jan 2019 13:27 WIB

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Nidia Zuraya

Huawei

Huawei

Foto: EPA
Karyawan Huawei ditahan atas tuduhan spionase

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Perusahaan teknologi asal Cina Huawei memecat karyawannya yang ditahan Polandia atas tuduhan spionase. Huawei langsung memberikan pernyataan apa yang dilakukan karyawan mereka Wang Weijing sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan.

"Sesuai dengan syarat dan kondisi yang berlaku dalam kontrak kepegawaian Huawei, kami membuat keputusan ini karena insiden yang permasalahkan telah membuat nama Huawei menjadi buruk," kata pernyataan Huawei yang dirilis setelah Wang ditangkap, seperti dilansir dari Sydney Morning Herald, Ahad (13/1).

Wang seorang sales manager Huawei di Polandia dan mantan etase di konsulat Cina di Gdanks. Perlakukan Huawei terhadap Wang jauh berbeda dengan perlakukan mereka terhadap Chief Financial Officer Huawei Meng Wanzhou, yang ditahan di Kanada.

Huawei membayar jaminan putri pendiri perusahaan tersebut sehingga ia bisa bebas dari tahanan. Kini Wang bersama seorang mantan petugas polisi Polandia ditahan oleh Badan Intelijen Polandia sejak Jumat (11/1) lalu. Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan mereka 'sangat prihatin' atas penangkapan ini.

"Huawei memenuhi semua regulasi dan hukum yang berlaku di negara kami beroperasi dan kami meminta setiap pegawai kami mematuhi hukum dan regulasi di mana mereka berada," tambah pernyataan Huawei tersebut.

Eksekutif Senior di Huawei Kanada, Scott Bradley turun dari jabatannya. Huawei mengatakan mantan politikus Kanada itu tetap menjadi konsultan bagi perusahaan mereka.

Mundurnya Bradley ini terjadi setelah Kanada menahan Meng atas permintaan Amerika Serikat. Pengadilan New York menyatakan Meng bersalah dalam menyesatkan bank-bank multinasional dalam transaksi dengan Iran yang menyebabkan bank-bank tersebut beresiko melanggar sanksi AS ke Iran. 

Cina sempat menangkap 13 warga negara Kanada. Termasuk dua orang yang masih ditahan yakni mantan diplomat Michael Kovrig dan seorang penguasaha Michael Spavor. Cina membantah penangkapan warga negara Kanada ini berhubungan dengan penangkapan Meng.

Tapi para diplomat dan mantan diplomat negara-negara Barat yakin penangkapan tesebut sebagai serangan balasan terhadap Kanada. Berbeda dari Meng yang sudah dibebaskan dari tahanan dengan jaminan Kovrig dan Spavor tidak dapat menemui pengacara dan keluarga mereka. 

Sementara itu Polandia sudah menghubungi Uni Eropa dan NATA untuk membuat sikap bersama apakah mengeluarkan Huawei dari pasar mereka atau tidak. Menteri Dalam Negeri Polandia Joachim Brudzinski mengatakan Polandia ingin tetap berkerja sama dengan Cina tapi diperlukan diskusi untuk mengeluarkan Huawei dari beberapa pasar mereka.

"Juga ada kekhawatiran tentang Huawei di Nato, maka masuk akal jika membuat sikap bersama, diantara anggota Uni Eropa dan NATO, kami ingin memiliki hubungan yang bagus dengan Cina, intensif dan atraktif dari kedua belah pihak," kata Brudzinski.

Penangkapan dua orang penting Huawei ini telah membuat perusahaan tersebut tidak dilibatkan dalam pembuatan jaringan 5G di negara-negara Barat termasuk Australia, Selandia Baru dan Jepang. Sementara badan intelijen Inggris dan Kanada juga sedang meninjau kembali keberadaan Huawei di negara mereka. 

Amerika serikat yang melihat kekuatan teknologi Cina sebagai ancaman sudah melobi sekutu-sekutu mereka untuk mengeluarkan Huawei dari pembangunan jaringan 5G karena masalah keamanan. Di Ceko badan intelijen negara itu berselisih dengan Presiden mereka Milos Zeman.

Perselihan ini terjadi ketika Badan Keamanan Siber dan Informasi Ceko mengeluarkan peringatan tentang bahayanya produk Huawei. Zeman marah karena peringatan tersebut dikeluarkan tanpa ada pemberintahuan terlebih dahulu dengan pemerintah.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA