Sunday, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 January 2019

Sunday, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 January 2019

Libya Tutup Ladang Minyak Terbesar El Sharara

Senin 10 Dec 2018 08:33 WIB

Red: Nidia Zuraya

Libya

Libya

Foto: english.aljazeera.net
Ladang minyak El Sharara memproduksi sebanyak 315 ribu barel minyak per hari

REPUBLIKA.CO.ID, BENGHAZI -- Libya menghentikan produksi di ladang minyak terbesarnya El Sharara. Penghentian produksi dilakukan sesudah sejumlah warga dan penjaga keamanan negara melakukan aksi unjuk rasa dan menguasai sarana El Sharara serta mengancam pekerja minyak pada Ahad (9/12).

Perusahaan minyak milik negara NOC mengatakan penutupan ladang minyak dengan produksi sebanyak 315 ribu barel per hari itu juga akan diikuti dengan penutupan ladang minyak El-Feel. Ladang tersebut juga terletak di gurun selatan, yang terpencil dan tanpa ada kepatuhan pada hukum.

El-Feel mampu memproduksi minyak sekitar 70 ribu barel per hari. "El Sharara ditutup," kata petugas.

Juru bicara pendemo, yang menyebut diri Gerakan Kemarahan Fezzan, Mohamed Maighal, juga menyatakan ladang itu ditutup.

NOC membenarkan bahwa penjaga memaksa penutupan beberapa pompa di El Sharara. "(penutupan) Ini akan menyebabkan pengisian tangki hanya bisa dilakukan di tempat itu dalam beberapa jam ke depan dan dengan demikian memaksa keluaran dihentikan," kata NOC.

NOC tidak bisa dihubungi untuk tanggapan lebih lanjut tapi mengatakan akan mengeluarkan pernyataan. Perusahaan tersebut memperingatkan akan 'dampak bencana' dari penutupan padang minyak El Sharara.

"Menghentikan produksi di ladang El Sharara akan menimbulkan dampak besar jangka panjang, akan memakan waktu lama untuk melanjutkan keluaran akibat rongrongan itu dan pencurian, yang mungkin terjadi," kata pernyataan NOC.

Para warga lokal menyerbu ke ladang tersebut pada Sabtu (8/12) sesudah NOC menyatakan beberapa penjaga, didukung penduduk setempat, membuka gerbang, mengemudikan jip dan memfilmkan diri mereka dalam video, yang mereka kirim ke kalangan wartawan.

Mereka bermalam di daerah luas dan sebagian tidak aman itu, membuat ancaman untuk menghentikan produksi, yang pertama kali dikeluarkan pada Oktober, jika pihak berwenang tidak menyediakan lebih banyak dana pembangunan untuk wilayah miskin mereka.

"Kami tidak akan mengizinkan ladang El Sharara dibuka kembali kecuali Perserikatan Bangsa-Bangsa menengahi," kata Maighal pada Ahad (9/12) sore.

Ia menyatakan wilayah Fezzan selatan diabaikan beberapa dasawarsa dan menuntut bahwa pendapatan dari minyak dari ladang setempat digunakan untuk mendanai kegiatan pembangunan.

NOC berusaha keras menjaga lapangan tetap bekerja, dikendalikan dari Tripoli, sekitar 700 kilometer ke utara, dan pada Sabtu malam mengeluarkan pernyataan sesudah lama bungkam, dengan mengatakan bahwa ladang itu diduduki tapi "pada saat ini" tetap buka.

Pejabat pada saat sama mencoba memanfaatkan waktu untuk secara bertahap mematikan sumur guna merundingkan penyelesaian pada detik terakhir sambil menuduh beberapa penjaga bertindak sebagai penjahat.

Insinyur lapangan menyatakan pembicaraan rumit untuk dilakukan karena pengunjuk rasa terpecah dengan suku menginginkan pembangunan, yang akan membutuhkan waktu untuk dijalankan.

Para anggota Penjaga Sarana Perminyakan (PFG) siap mengakhiri penutupan itu jika mereka segera mendapat uang tunai, dengan menyatakan belum dibayar baru-baru ini. Penjaga itu berulang kali meminta negara menambahkan lebih banyak orang ke daftar gaji.

Dengan Libya terpecah menjadi dua pemerintahan lemah, kelompok bersenjata, suku dan warga umum Libya cenderung marah atas inflasi tinggi serta kekurangan prasarana terhadap NOC, yang mereka lihat sebagai sapi perahan dengan dalam pendapatan minyak dan gas miliaran dolar setiap tahun.

Libya baru-baru ini menghasilkan minyak hingga 1,3 juta barel sehari, tertinggi sejak 2013 ketika gelombang penyumbatan ladang minyak dimulai, bagian dari kekacauan sejak Muammar Gaddafi digulingkan pada 2011.

Sumber : Antara/Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES