Jumat, 7 Zulqaidah 1439 / 20 Juli 2018

Jumat, 7 Zulqaidah 1439 / 20 Juli 2018

Iran: Sanksi AS akan Perlemah OPEC

Ahad 08 Juli 2018 08:40 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Seorang pekerja minyak Iran bersepeda di kilang minyak Teheran selatan ibukota Teheran, Iran.

Seorang pekerja minyak Iran bersepeda di kilang minyak Teheran selatan ibukota Teheran, Iran.

Foto: AP
AS meminta agar semua negara berhenti mengimpor minyak dari Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN  -- Sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran akan membuat lemah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Demikian disampaikan seorang pejabat Kementerian Perminyakan kepada kantor berita resmi Iran, IRNA, Sabtu (7/7).

"Minyak Iran takkan kehilangan pelanggannya sebab banyak perusahaan membeli minyak dari negeri ini," kata Moayyed Hosseini Sadr, Penasehat di Kementerian Perminyakan Iran.

"Mungkin akan terjadi sedikit penurunan dalam penjualan minyak Iran, tepi pembelian secara diam-diam minyak Iran oleh banyak perusahaan dapat menggantikannya," katanya menambahkan.

Namun, jika Amerika Serikat terus menekan untuk melarang penjualan minyak mentah Iran, maka itu akan mengganggu rencana OPEC. Sebab Iran memproduksi lima persen dari seluruh hasil minyak dunia dan ini adalah jumlah yang penting.

"Takkan ada lagi organisasi semacam itu (seperti OPEC) pada masa depan, setelah berlanjutnya sanksi terhadap Iran," kata pejabat tersebut sebagaimana dikutip IRNA.

Baca juga, Trump Tuding OPEC Mainkan Harga Minyak.

Pada 26 Juni, Departemen Luar Negeri AS menyatakan, telah mendorong banyak negara agar berhenti mengimpor minyak dari Iran mulai November. Amerika Serikat, katanya, tidak menjamin dampak pengabaian oleh setiap negara yang melakukan bisnis dengan Iran.

Setelah keputusan Presiden AS Donald Trump untuk keluar dari kesepakatan nuklir Iran, yang bersejarah, pada 8 Mei, Amerika Serikat berikrar akan memberlakukan kembali sanksi atas Teheran. AS juga akan menjatuhkan hukuman seperti sanksi sekunder atas negara yang memiliki hubungan bisnis dengan Teheran.

Perusahaan yang melakukan bisnis di Iran diberi waktu sampai 180 hari untuk mengakhiri penanaman modal, jika tidak, mereka menghadapi resiko dikenakan denda sangat besar.

Penarikan diri Washington dari kesepakatan nuklir Iran, yang bersejarah, dikecam banyak pihak di seluruh dunia. Dan sebagian sekutu utamanya di Eropa telah berusaha mencegah kesepakatan 2015 tersebut berantakan. Harga minyak naik setelah pernyataan dari Departemen Luar Negeri AS itu.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA