Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Yunani 'Lulus' dari Krisis, Setelah 8 Tahun Penghematan

Jumat 22 Jun 2018 16:08 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ratusan orang berkumpul di London, Inggris, mengelukan dukungan mereka terhadap ekonomi Yunani sekaligus mengkritik cara Bank Sentral Eropa membantu ekonomi Yunani.

Ratusan orang berkumpul di London, Inggris, mengelukan dukungan mereka terhadap ekonomi Yunani sekaligus mengkritik cara Bank Sentral Eropa membantu ekonomi Yunani.

Foto: Reuters
Eurogroup menilai Yunani telah mampu keluar dari krisis yang pernah mengancam euro.

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA -- Yunani akan secara resmi lulus dari delapan tahun ketergantungan keuangan pada mitra zona euro pada Agustus. Zona euro telah membersihkan negara ini untuk dapat kembali ke pasar keuangan.

"Ini bukan momen biasa. Ini adalah momen yang luar biasa. Krisis Yunani berakhir di sini, di Luksemburg malam ini. Ini merupakan jalan panjang," kata Komisaris Keuangan Eropa Pierre Moscovici, dilansir di Aljazeera, Jumat (22/6).

Ia mengatakan, pihaknya selama delapan tahun bersama Yunani berupaya menjaga euro. Ia melihat Yunani akan segera keluar dari zona krisis yang pernah mengancam euro atau mata uang bersama Eropa.

Kesepakatan diperlukan untuk memungkinkan Yunani keluar dengan aman dari program bailout ketiga, yang dijadwalkan akan berakhir pada 20 Agustus. Moscovici mengatakan, keputusan itu akan memungkinkan Yunani untuk bangkit kembali.

Eurogroup juga akan memberikan Yunani perpanjangan 10 tahun pada pembayaran pinjaman bailout pertama yang disetujui pada tahun 2010. Utang akan dibayar kembali pada tahun 2033.

Langkah-langkah penangguhan utang sebelumnya telah membahas pinjaman kedua dan ketiga. "Perpanjangan jatuh tempo akan membantu Yunani kembali ke pasar," kata Mario Centeno, presiden Eurogroup. 

Diharapkan bahwa perpanjangan akan membuat utang Yunani yang berkelanjutan, menarik investor kembali ke negara itu, dan memenuhi permintaan inti dari pemerintah Syriza. Yunani juga akan menerima saldo pinjaman ketiganya sebagai lump sum atau pembayaran sekaligus dari Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM), dana kesusahan berdaulat yang dibuat zona euro untuk menyelamatkan pemerintah. 

"Kami telah memerintahkan ESM untuk mencairkan 15 miliar euro (sekitar Rp 246,4 triliun) sebagai angsuran terakhir dari program ini," kata Centeno.

Secara total, Yunani akan meninggalkan program dengan dana penyangga senilai 24,1 miliar euro (sekitar Rp 396 triliun) untuk 22 bulan ke depan. "Ini akan menjadi langkah yang sangat penting untuk menghadapi bahaya apa pun yang mungkin timbul," katanya menambahkan.

Secara teori, uang tersebut hanya untuk keadaan darurat. Yunani telah berkomitmen untuk menyisihkan jumlah tahunan sebesar 3,5 persen dari ekonomi untuk lima tahun ke depan--yang berarti 6,3 miliar euro (sekitar Rp 103,5 triliun) tahun depan, untuk membayar kembali pinjaman. 

Setelah 2022, Yunani masih harus secara permanen menyisihkan rata-rata 2,2 persen dari produk domestik bruto (PDB), sebuah usaha yang diakui Centeno berat. Yunani tidak akan sepenuhnya bebas untuk membuat keputusan pengeluarannya sendiri. 

Negara ini harus tunduk pada pengawasan ketat pada pelaksanaan anggarannya hingga 2059, ketika dijadwalkan untuk melunasi pinjamannya ke ESM. Itulah yang ESM, pengawas Yunani, sebut 'sistem peringatan dini' terhadap kemunduran janji-janji Yunani untuk mengontrol pengeluaran.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES