Thursday, 10 Muharram 1440 / 20 September 2018

Thursday, 10 Muharram 1440 / 20 September 2018

Starbucks akan Tutup 150 Gerai di AS

Rabu 20 June 2018 13:21 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya

Starbucks

Starbucks

Foto: Reuters
Rencana ini membuat saham Starbucks turun dua persen

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Starbucks Corp memperkirakan pertumbuhan penjualan lebih lambat dari perkiraan pada kuartal pertama tahun ini. Kedai kopi asal Amerika Serikat (AS) tersebut berencana untuk menutup sekitar 150 gerainya di AS pada tahun fiskal mendatang.

Penutupan gerai ini untuk meningkatkan kinerja Starbucks. Proyeksi ini membuat saham Starbucks turun 2 persen.

Jaringan kopi terbesar di dunia ini sedang menghadapi persaingan, baik dari kedai kopi kelas atas dan jaringan makanan cepat saji dengan harga lebih rendah seperti McDonald's Corp dan Dunkin Donuts.

Perusahaan mengantisipasi pertumbuhan bersih toko baru yang lebih rendah di AS untuk tahun fiskal 2019 dan mengatakan akan mengatasi preferensi konsumen yang berubah dengan cepat dengan memperkenalkan minuman dingin baru seperti minuman buah naga dan mangga serta berfokus pada tren kesehatan dan kebugaran yang meningkat.

Direktur eksekutif sekaligus co-founder Starbucks, Howard Schultz mengatakan pada awal bulan ini bahwa dia akan mundur dari perusahaan pada tanggal 26 Juni. Pada April lalu, Schultz bekerja bersama CEO Kevin Johnson untuk membantu membatasi kerusakan pada citra perusahaan setelah insiden profiling rasial yang melibatkan penangkapan dua pria kulit hitam di sebuah cabang di Philadelphia.

Starbucks mengatakan pihaknya memperkirakan penjualan global akan naik satu persen pada kuartal ketiga. Angka tersebut di bawah kenaikan yang diperkirakan oleh para analis sebesar tiga persen.

"Beberapa peningkatan biaya kami adalah investasi yang sesuai untuk masa depan, kinerja kami baru-baru ini tidak mencerminkan potensi dari merek kami yang luar biasa dan tidak dapat diterima," kata CEO Kevin Johnson dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters, Rabu (20/6).

Secara historis, perusahaan yang berbasis di Seattle ini sudah menutup sekitar 50 toko setahun terakhir. Namun, di sisi lain Starbucks mengatakan akan membuka lebih banyak toko di bawah penetrasi pasar dan mengeksplorasi opsi strategis untuk lisensi toko yang dioperasikan perusahaan.

Cina adalah penggerak pertumbuhan terbesar perusahaan dengan penjualan toko yang sama naik 4 persen pada kuartal yang dilaporkan terakhir. Perusahaan juga mengatakan akan memotong biaya umum dan administrasi dengan rencana untuk bermitra dengan konsultan eksternal untuk mempercepat proses.

Pada awal Mei, Nestle yang berbasis di Swiss mengatakan akan membayar Starbucks 7,15 miliar dolar AS untuk hak eksklusif menjual kopi dan teh Starbucks. Kerja sama itu membebaskan Starbucks untuk fokus pada peningkatan bisnis kafe andalan AS ini.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES