Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Bank Sentral AS Menaikkan Suku Bunga Lagi

Kamis 14 Juni 2018 08:27 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

The Fed/Ilustrasi

The Fed/Ilustrasi

Foto: ABC News
Kenaikan suku bunga ini merupakan yang kedua kalinya di tahun 2018.

REPUBLIKA.CO.ID,  WASHINGTON -- The Federal Reserve (the Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) kembali menaikkan suku bunga jangka pendek atau suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Kenaikan suku bunga ini merupakan yang kedua kalinya di tahun 2018.

Dalam kenaikan suku bunga pada Juni 2018 ini, the Fed mematok di kisaran 1,75 persen hingga 2 persen. Bank Sentral AS mengesampingkan janji sebelumnya bahwa mereka akan menahan suku bunga di kisaran rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Perekonomian berjalan dengan sangat baik, pengangguran dan inflasi rendah, prospek keseluruhan untuk pertumbuhan tetap baik," ujar Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell dilansir Reuters, Kamis (14/6).

Ekspektasi ekonomi yang sudah baik mendorong Bank Sentral AS menaikkan suku bunga sebanyak 7 kali sejak 2015 lalu. Selain itu, Bank Sentral AS juga menyatakan inflasi inti untuk barang-barang selain makanan dan energi telah bergerak mendekati 2 persen. Hal ini menunjukkan bahwa para pejabat the Fed semakin optimistis inflasi akan mencapai target yakni 2 persen.

Adapun the Fed memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh 2,8 persen pada 2018, sedikit lebih tinggi dari 2,7 persen yang diperkirakan pada Maret lalu. Sementara, tingkat pengangguran AS diperkirakan turun menjadi 3,6 persen pada akhir tahun, lebih rendah dari 3,8 persen yang diperkirakan sebelumnya.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang baik ini menjadi landasan bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan awal pada beberapa bulan mendatang. Diperkirakan the Fed akan menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini.

"Pasar tenaga kerja terus menguat, aktivitas ekonomi telah meningkat pada tingkat yang solid dan pengeluaran rumah tangga juga meningkat, sementara investasi bisnis terus tumbuh kuat," kata the Fed dalam sebuah pernyataan.

Di sisi lain para analis memperkirakan, pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pengangguran yang menurun kemungkinan akan membuat the Fed berada di jalur yang stabul menuju pengetatan kebijakan moneter. Hal ini untuk mencegah ekonomi AS dari overheating.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES