Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Foxconn Diduga Mengeksploitasi Pekerja

Senin 11 June 2018 10:25 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya

Para pekerja Foxconn di Cina

Para pekerja Foxconn di Cina

Foto: guardian
Pekerja Foxconn di Cina diberi upah rendah dan jam kerja yang berlebihan

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Produsen elektronik terbesar dunia, Foxconn sedang menyelidiki salah satu pabriknya di Cina yang memproduksi perangkat untuk Amazon.com. Penyelidikan ini menyusul adanya laporan dari China Labour Watch yang menyebutkan bahwa kondisi kerja di pabrik Foxconn tidak layak bagi para pekerja.

Dilansir Reuters, Senin (11/6), laporan sebanyak 94 halaman terkait penyelidikan tersebut dirilis oleh China Labour Watch yang berbasis di New York. Penyelidikan telah berlangsung selama sembilan bulan. Berdasarkan hasil penyelidikan, ditemukan bahwa pekerja yang bekerja di Foxconn Cina diberikan upah rendah, pelatihan yang tidak memadai, dan jam kerja yang berlebihan.

Baca juga, Miris, Pekerja di Cina Diupah Pakai Batu Bata

"Kami sedang melakukan penyelidikan penuh terhadap area yang diangkat dalam laporan itu, jika terbukti benar tindakan akan segera kami ambil agar pabrik tersebut mematuhi pedoman," ujar Foxconn Techology Group dalam pernyataan rilisnya.

Foxconn merupakan perusahaan teknologi yang berbasis di Taiwan. Perusahaan ini dikenal secara resmi sebagai Hon Hai Precision Industry Co Ltd, yang memproduksi elektronik kontrak terbesar di dunia dan mempekerjakan lebih dari satu juta orang. Foxconn juga membuat iPhone Apple Inc.

Pada 2010, Foxconn pernah diprotes karena terjadi serentetan kasus bunuh diri di pabrik-pabrik di Cina. Setelah kejadian tersebut, Foxconn berjanji memperbaiki kondisi kerja.

China Labor Watch Program Officer Elaine Lu mengatakan, hasil penyelidikan menemukan bahwa sekitar 40 persen pekerja di pabrik Foxconn merupakan pekerja pengiriman. Jumlah ini melebihi batas 10 persen dibawah hukum Tiongkok. Para pekerja pengiriman dibayar dengan tarif yang sama untuk jam reguler dan lembur.

"Mereka dibayar rendah, itu ilegal," ujar Lu.

Pekerja pengiriman mendapatkan upah sebesar 14,5 yuan atau 2,26 dolar AS per jam. Pekerja juga memasukkan lebih dari 100 jam lembur per bulan selama musim puncak, jauh lebih dari 36 jam yang diizinkan oleh undang-undang. Selain itu, beberapa pekerja harus bekerja selama 14 hari berturut-turut tanpa ada hari libur.

Dalam sebuah pernyataan Amazon segera meminta adanya tindakan perbaikan dari Foxconn. Amazon berkomitmen untuk memastikan bahwa masalah tersebut dapat diselesaikan.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Senegal Menang 2-1 Atas Polandia

Rabu , 20 June 2018, 00:22 WIB