Senin, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019

Senin, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019

David Rockefeller, Sosok Miliarder Kepercayaan Pemimpin Dunia

Selasa 21 Mar 2017 16:58 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nur Aini

Miliarder Amerika Serikat, David Rockefeller, meninggal pada usia 101 tahun pada Senin (20/3) waktu AS. Ia tercatat sebagai orang tua terkaya di dunia

Miliarder Amerika Serikat, David Rockefeller, meninggal pada usia 101 tahun pada Senin (20/3) waktu AS. Ia tercatat sebagai orang tua terkaya di dunia

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Selain sebagai ekonom global, David Rockefeller juga merupakan orang kepercayaan pemimpin dunia. Dari Deng Xiaoping di Cina hingga Nelson Mandela di Afrika Selatan, dari penguasa Iran hingga Henry Kissinger.

Ulahnya yang paling diingat adalah ketika meminta Presiden Jimmy Carter (presiden AS pada 1977-1981) mengizinkan pemimpin Iran yang turun tahta ke AS untuk pengobatan. Hal ini berdampak pada penyanderaan warga Amerika di Teheran, Iran selama kurun waktu 1979 hingga 1981.

Relasinya dengan berbagai kepala negara tidak mengherankan mengingat perannya sebagai CEO Chase Manhattan Bank dan ahli keuangan menjadikannya sering melakukan pertemuan diplomasi tingkat tinggi. Selama 35 tahun berkecimpung bersama Chase, ia telah terbang lebih dari 5 juta mil dan menemui 200 kepala negara.

"Karena saya mulai lebih dulu, saya pikir saya mungkin tahu lebih banyak kepala negara dari orang lain, kecuali Henry Kissinger," kata ayah enam anak itu dalam sebuah wawancara 2003 lalu seperti diberitakan Bloomberg. Kissinger merupakan Menteri Luar Negeri AS era kepemimpinan Richard Nixon.

Rockefeller pernah dikritik karena bertemu dengan diktator termasuk Fidel Castro dari Kuba dan Saddam Hussein dari Irak. Rockefeller juga sering menjadi sasaran teori konspirasi karena keanggotannya dalam kelompok kebijakan internasional rahasia seperti Komisi Trilateral, sebuah organisasi yang dirancang untuk meningkatkan kerja sama antara negara-negara Amerika Utara, Eropa Barat, dan Jepang dan Kelompok Bilderberg yang merupakan perkumpulan rahasia para elit dunia.

Sepak terjangnya yang mendunia tampaknya menjadi penyebab cucu terakhir John D Rockefeller ini terlibat dalam 'bagi hasil kekayaan alam Indonesia' oleh Soeharto. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin sebuah konferensi di Jenewa, Swiss pada November 1967. Konferensi selama tiga hari itu memutuskan pembagian kekayaan alam Indonesia untuk dikelola perusahaan-perusahaan besar luar negeri.

Baca juga: Miliarder Rockefeller di Balik Penjarahan Kekayaan Alam Indonesia

Dalam konferensi yang disponsori Time-Life Corporation, pembagian dilakukan per sektor dan sangat rapi. Beberapa di antaranya Freeport yang memperoleh gunung tembaga di Papua Barat, Konsorsium AS/Eropa mendapat nikel, perusahaan raksasa Alcoa mendapat sebagian besar bauksit Indonesia. Begitu juga dengan kelompok perusahaan Amerika, Jepang dan Prancis yang mendapat jatah hutan tropis Sumatra. Tak heran jika Presiden AS ke-37 Richard Nixon menyebutnya sebagai hadiah terbesar dari Asia Tenggara.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA