Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Waketum MUI: Dakwah Membangun, Bukan Merobohkan

Senin 24 Jan 2022 10:43 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

Waketum MUI: Dakwah Membangun, Bukan Merobohkan. Foto: Dakwah/ilustrasi

Waketum MUI: Dakwah Membangun, Bukan Merobohkan. Foto: Dakwah/ilustrasi

Standardisasi dai MUI dibutuhkan untuk melahirkan koneksi.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (Waketum MUI), KH Marsudi Syuhud, menyampaikan bahwa standardisasi dai MUI dibutuhkan untuk melahirkan koneksi atau keterhubungan antar dai. Hal itu disampaikannya dalam acara Multaqa Duat Nasional dan wisuda akbar standardisasi dai MUI angkatan empat sampai sepuluh di Jakarta pada Ahad (23/1).

Kiai Marsudi menyampaikan, dakwah menjadi sarana untuk menyebarkan hal-hal baik yang membangun. Dakwah bukan menjadi jalan merobohkan apalagi meruntuhkan.

Baca Juga

"Dakwah adalah membangun, bukan merobohkan, apalagi meruntuhkan. Dakwah membangun keilmuan, membangun peradaban bahkan kehidupan," kata Kiai Marsudi melalui pesan tertulis yang diterima Republika, Senin (24/1/2022).

Waketum MUI ini menyampaikan, dengan jumlah penduduk Muslim yang mayoritas di Indonesia, peran dakwah ini menjadi sangat penting. Dakwah dirasa sangat perlu untuk menjaga ajaran agama bahkan kondisi sosial kemasyarakatan.

Menurutnya, pada titik inilah standardisasi dai diperlukan untuk menjaga agama, bangsa, dan negara. Hal itu bisa dimulai dari mengembangkan keilmuan dan metode atau cara penyampaian dakwah.

Ia mengingatkan, karena posisi dakwah dan dai yang penting di masyarakat, maka para dai harus semakin cerdik menempatkan diri. "Beberapa dai besar kerap dijatuhkan pihak tertentu karena ada perkataannya yang dinilai tidak benar. Terutama pada zaman media sosial seperti sekarang, banyak kata yang ditafsirkan bermacam-macam," ujar Kiai Marsudi.

Kiai Marsudi mengatakan, para dai harus mencermati Surat Al-Qaf Ayat 18. Ayat tersebut menerangkan bahwa tidak ada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Artinya, tanpa merasa diperhatikan manusia yang lain pun, sejatinya para dai harus sadar bahwa mereka sedang diawasi oleh malaikat. Karena itu, setiap apa yang mereka ucapkan harus disampaikan dengan baik dan penuh perhatian.

"Untuk kondisi sekarang, yang mencermati tidak hanya malaikat. Ada tambahannya yaitu google," ujarnya.

Multaqa Duat Nasional juga digelar bersamaan dengan wisuda akbar standarisasi dai MUI angkatan empat sampai sepuluh. Peserta Multaqa Duat Nasional adalah Komisi Dakwah MUI pusat dan provinsi, perwakilan Ormas Islam pendiri MUI, dan akademisi dari fakultas-fakultas dakwah. Multaqa Duat Nasional ini digelar secara daring dan luring dengan menerapkan protokol kesehatan pada 22-24 Januari 2022.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA