Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Kisah Aktivis Muslim yang Dibuntuti Intel Era Soeharto

Jumat 23 Oct 2020 03:10 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

 Muhammad Imaduddin Abdulrahim aktivis Muslim kerap dibuntuti intel era Orde Baru Soeharto

Muhammad Imaduddin Abdulrahim aktivis Muslim kerap dibuntuti intel era Orde Baru Soeharto

Foto: blogspot.com
Bang Imad aktivis Muslim kerap dibuntuti intel era Orde Baru Soeharto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Muhammad Imaduddin Abdulrahim atau yang akrab dengan panggilan Bang Imad dikenal sebagai aktivis yang  berani karena benar. Ceramah-ceramahnya selalu lugas, memperjuangkan amar makruf nahi mungkar. 

Padahal, menurut Yudi Latif dalam disertasinya, The Muslim Intelligentsia of Indonesia: A Genealogy of lts Emergence in the 20th Century (2004: 349), Orde Baru sedang kuat-kuatnya dan cenderung antikritik. Pemilihan Umum 1971, misalnya, membuktikan nirdemokratisnya penguasa. Terhadap fenomena ini, Bang Imad di tiap forum publik tidak ragu menyuarakan kritik keras. Karena itu, dia sampai tidak bisa berceramah di kampus-kampus pada 1986-1988.

Ke manapun dia pergi, selalu dibuntuti mata-mata. Ada dua kasus yang cukup fenomenal. Pertama, saat dirinya menjadi penceramah Maulid Nabi di Masjid al-Azhar (Jakarta) 1971. Bang Imad tahu betul ada mata-mata pemerintah yang menyelinap di antara hadirin.

Baca Juga

Panitia juga telah mengingatkannya lantaran khawatir keselamatan sang narasumber. Namun, tak terbersit rasa takut dalam diri Bang Imad. Setelah mengutip ayat Alquran, dia tegas berceramah bahwa umat Islam Jangan pernah takut kepada selain Allah, apalagi kepada intel.Diserukannya pula agar siapa pun intel yang sedang menyamar mencatat setiap perkataannya.

Kasus kedua terjadi di UGM Yogyakarta. Di hadapan ratusan hadirin, Bang Imad menyinggung sejarah Firaun. Dia menyebut pula, sebelum mati penguasa Mesir Kuno itu mendirikan istana di atas bakal kuburannya. Konteks ceramahnya saat itu, Presiden Soeharto memang sudah membangun kompleks Mausoleum Astana Giribangun di Karanganyar, Jawa Tengah. Walaupun Bang Imad tidak menyebut Soeharto atau presiden, terasa sindirannya kepada penguasa. Apalagi, ditegaskannya bahwa siapa pun pemimpin yang melakukan hal itu sehaluan dengan Firaun.

Pada malam hari, 23 Mei 1978, peristiwa ini terjadi. Bang Imad ditangkap intel di rumahnya. Suami Nur'aini itu baru saja selesai mengisi kajian di Masjid Salman, ITB. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta ditempuh lewat tengah malam. Bang Imad tak merasa cemas sama sekali. Tiba di penjara yang berlokasi persis samping TMII, dia tidak menjalani penyiksaan.Malahan, sipir yang membentaknya dibentaknya lebih keras lagi. Sejak saat itu, semua petugas segan kepadanya.

Baik sebagai ilmuwan maupun figur publik, Bang Imad menampakkan jiwa tauhid yang teguh. Saat menjadi dosen di Malaysia, umpamanya, dia sedih melihat ada mahasiswa yang percaya stereotip bahwa segala yang berbau Barat, termasuk kemajuan teknologi, bertentangan dengan Islam. Bahkan, pelajar itu tampak meyakini Islam tidak cocok untuk dunia modern.

Bang Imad pun mengadakan Latihan Mengenal Diri (LMD; bukan Latihan Mujahid Dakwah) kepada semua anak didiknya. Tujuannya agar Muslimin Indonesia atau umumnya bangsa Melayu mengenal betul agamanya sehingga bangga beridentitas Islam. Di negeri jiran, training ini dijuluki Latihan Tauhid. Hasilnya, para mahasiswa mulai berubah.Yang tadinya malu-malu membawa Alquran ke kampus, kini menampakkannya di atas buku-buku kuliah.

Menjelang 1980, dia bebas dari penjara antara lain lantaran lobi Prof Tisna Amidjaja. Rektor ITB itu berhasil meyakinkan Pangkopkamtib saat itu bahwa Bang Imad bukan orang politik sehingga tidak berbahaya. Sebagai kompromi, Prof Tisna meminta agar Bang Imad dikirim tugas belajar ke luar negeri. Awalnya, upaya itu sempat terkendala banyak hal, semisal usia yang bersangkutan yang sudah 48 tahun.

Berkat lobi Pak Natsir ke pemerintah Arab Saudi dan Kuwait, Imaduddin pun berkesempatan melanjutkan S-3 di AS dengan beasiswa dari dua negara Islam itu. Pada 1985, dia berhasil meraih gelar doktor dari Lowa State University, meski dengan sedikit insiden: disertasinya nyaris lenyap saat disimpannya di komputer.

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA