Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Makna Idul Adha: Syariat Berqurban Sejak 2 Anak Adam

Jumat 31 Jul 2020 17:10 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Idul Adha momentum teladani syariat qurban sejak Nabi Adam hingga Ibrahim AS. Panitia memotong daging hewan qurban sebelum dibagikan kepada mustahik di Masjid Al Lathiif, Jalan Saninten, Kota Bandung, Jumat (31/7). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan teknis pembagian daging qurban dilakukan secara pintu ke pintu (door to door) sebagai bentuk penerapan protokol kesehatan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) guna pencegahan penyebaran Covid-19. Foto: Abdan Syakura/Republika

Idul Adha momentum teladani syariat qurban sejak Nabi Adam hingga Ibrahim AS. Panitia memotong daging hewan qurban sebelum dibagikan kepada mustahik di Masjid Al Lathiif, Jalan Saninten, Kota Bandung, Jumat (31/7). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan teknis pembagian daging qurban dilakukan secara pintu ke pintu (door to door) sebagai bentuk penerapan protokol kesehatan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) guna pencegahan penyebaran Covid-19. Foto: Abdan Syakura/Republika

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Idul Adha momentum teladani syariat qurban sejak Nabi Adam hingga Ibrahim AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Idul Adha merupakan momentum untuk mengingat kembali sejarah manusia dalam berqurban, mulai dari qurban yang dilakukan Qabil dan Habil sampai qurban Nabi Ibrahim terhadap Nabi Ismail.     

"Idul Adha kita kembali kepada qurban. Artinya kembali mengingat sejarah manusia berqurban, sejak putra nabi Adam, Qabil dan Habil itu berqurban," ujar Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Nafis saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (31/7).  

Bagi seorang muslim, qurban menjadi ibadah yang harus dilandasi keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT. Manusia diperintahkan untuk berqurban sejak kedua putra Nabi Adam AS, yaitu Qabil dan Habil.  

Baca Juga

"Ternyata qurbannya Habil yang diterima. Di samping karena hal yang baik-baik yang diqurbankan juga keikhlasannya Habil mempersembahkan kepada Allah," ucapnya.  

Kisah qurban Qabil dan Habil ini juga diceritakan dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 27: 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka (qurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”  

Selain mengingat sejarah qurban yang dilakukan Qabil dan Habil, menurut Kiai Cholil, momentum Idul Adha juga mengingatkan umat Islam kepada qurban yang dilakukan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya, Nabi Ismail.   

Nabi Ibrahim pada saat itu diuji Allah SWT. Apakah bersedia atau tidak jika putranya dipersembahkan kepada Allah SWT. Ternyata pada saat hendak menyembelih, Nabi Ismail atas kehendak Allah SWT digantikan dengan seekor domba.   

"Ketika Nabi Ibrahim itu berqurban itu anak semata wayang yang lama ditunggu itu diqurbankan. Jangan sampai cintanya kepada selian Allah melebihi cinta Allah kepada Allah," kata Kiai Cholil. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA