Friday, 17 Zulhijjah 1441 / 07 August 2020

Friday, 17 Zulhijjah 1441 / 07 August 2020

Gus Dur

Humor Gus Dur: Perdagangan Mesir-Israel di Perang Yom Kipur

Kamis 09 Jul 2020 11:29 WIB

Red: Muhammad Subarkah

KH Abdurrahman Wahid (Gus dur) ketika muda tengah membaca.

KH Abdurrahman Wahid (Gus dur) ketika muda tengah membaca.

Foto: wikimedia
Humor Gus Dur soal perdangan Mesir-Israel di masa perang Yom Kipur

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Fachry Ali MA, Pengamat Sosial-Keagamaan.

Ingatan saya pendek, karena lupa perang Arab-Israel yang terjadi pada 1967 —sebelum perang Yom Kipur pada 1973. Yang justru saya ingat, seperti pernah saya tulis di kolom Majalah Tempo Tentang Moamar Qaddafy. Tulisan itu berkisah soal kejadian pada pertengahan 1980-an di mana abang saya Chalis Ali yang kala itu  masih duduk di SMP 46 Pasar Minggu, berteriak-teriak gembira sambil membawa Harian Angkatan Bersenjata.

Isinya adalah berita rontoknya puluhan pesawat tempur Israil ditembak tentara Mesir.
Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu, yang terjadi adalah sebaliknya. Kenapa ‘beberapa tahun’? Sebagai anak sekolah Madrasaj Ibtidaiyah di Ragunan, Pasar Minggu, saya tidak mengikuti perkembangan Timur Tengah dengan cermat.

Saat itu, saya lebih teliti mengikuti cerita bersambung ‘Nagasastra Sabuk Inten’ karya SH Mintardja di Harian Berita Yudha. Tokoh Mahesa Jenar, Kebo Kanigara atau Bogel Kaliki dalam serial bersambung itu lebih lekat dlm ingatan sejak Ibtidaiyah hingga hingga kini.

Nah, ketika terjadi perang Yom Kipur —secara subyektif saya tak suka mengenakan frasa ini— terjadi pada 1973, saya sudah duduk di kelas 3 SPIAIN Al-Falah, Mampang Prapatan. Karena itu, peristiwa ‘menggetarkan’ tersebut terus hinggap dalam struktur ingatan saya sampai sekarang.

Yom Kippur War - Wikipedia

  • Keterangan Foto: Suasana perang Yon Kipur. Jembatan 'bailey' dipasang di atas Terusan Suez dan kemudian di bom oleh Israel melalui serangan pesawat terbang. Perang berakhir dengan gencatan senjata.

Maka dalam perspektif itulah saya kemudian menaruh perhatian besar pada cerita senior saya Ignas Kleden pada pertengahan 1980-an di LP3ES. Ini terutama tentang lucuan atau humor Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atas perdagangan Mesir-Israel.

"Walau dlm keadaan perang,’ kata Kiai Abdurrahman Wahid, seperti diceritakan kembali oleh Ignas Kleden, ‘perdagangan’ Mesir-Israil tetap berlangsung. Ini terutama dalam impor-ekspor kippah —kopiah putih Yahudi yang, karena kecilnya, cukup diletakkan di belakang kepala.

Akibat kecamuk perang Yom Kipur telah membuat suplai kippah  menjadi barang langka di Israil. Sementara kebutuhan (demand) meningkat.

Untuk itu, sebuah perusahaan Israel mengontak rekannya, seorang pengusaha Mesir, agar segera mengekspor kippah. Deal terjadi. Dan, pengusaha Mesir ini dengan teratur mengirim kippah sesuai dengan permintaan.

Tetapi, kian lama, kebutuhan kippah semakin tinggi. Israil mendesak pengusaha Mesir itu semakin melipat gandakan ekspor kippah. Dan untuk sementara, pengusaha Mesir tersebut masih bisa memenuhi permintaan kippah yang kian meningkat itu. Tetapi, lama kelamaan menjadi semakin seret.

Maka, pengusaha Israel menjadi masygul. Melalui telepon, ia menghubungi pengusaha

Mesir: Terjadilah percakapan sebagai berikut:

Israel: ‘Mengapa ekspor kippah-mu seret sekali? Padahal permintaannya sedang bagus di Israel.’

Mesir: ‘Justru kami yang ketiban pulung gara-gara harus mengekspor kippah tanpa henti ke negerimu.’

Israel: ‘Kok?! Bukannya kamu makin untung?!’

Mesir: ‘Iya sih. Tapi perusahaan kami kini diprotes banyak orang. Mesir juga dalam krisis besar.’

Israil: ‘Krisis?! Krisis besar apa?’

Mesir: ‘Krisis kelangkaan BH. Selama ini, BH itu kami potong dua. Lalu kami ekspor ke negerimu. Akibatnya, lama kelamaan Mesir menderita kelangkaan BH.’

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA