Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Ustadz Wijayanto Ajak Umat Bermetamorfosis Saat Ramadhan

Jumat 22 May 2020 13:00 WIB

Rep: binti sholikah/ Red: Ani Nursalikah

Ustadz Wijayanto Ajak Umat Bermetamorfosis Saat Ramadhan

Ustadz Wijayanto Ajak Umat Bermetamorfosis Saat Ramadhan

Foto: str
Muslim yang berpuasa jangan sampai hanya mendapat haus dan lapar saja saat Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Ustadz Wijayanto mengajak umat Muslim memanfaatkan momen Ramadhan untuk berubah menjadi kupu-kupu. Dalam tausiyahnya, ia mengibaratkan saat sebelum Ramadhan, manusia seperti ulat yang rakus, menjijikkan, tidak ada yang ingin mendekat, serta menghabiskan daun.

"Orang yang berhasil puasanya harus menjadi kepompong, setelah selesai maka kita harus bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik dan elok. Jangan sampai puasa kita menjadi sia-sia. Banyak orang yang puasa tapi hanya mendapat haus dan lapar saja, hanya mendapatkan lelahnya saja, tidak mendapat berkah dari puasa itu sendiri," ujarnya saat mengisi kajian di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, seperti tertulis dalam siaran pers, Jumat (22/5).

Kajian yang mengusung tema 'Kembali Fitri di Tengah Pandemi Covid-19' ini disiarkan secara langsung melalui aplikasi Zoom dan channel Youtube UNS. Kajian diikuti sekitar 220 peserta.

Baca Juga

 

Ustadz Wijayanto menambahkan, iman seseorang hilang bukan hanya karena tidak sholat dan tidak puasa. Iman seseorang dapat hilang jika seseorang bisa tidur tenang sementara tetangganya tidak bisa tidur karena lapar.

"Maka puasa itu menangkap golden role of ethic. Kalau tidak mau disakiti, jangan menyakiti orang lain, kalau tidak mau dizalimi maka jangan menzalimi orang lain, itulah jiwa puasa. Kalau kita tidak mau kelaparan, tidak mau kehausan, jangan biarkan orang lain haus dan lapar. Dari sinilah kita membangun pesan dari puasa," ujar Ustadz Wijayanto.

Dia juga menekankan pentingnya bersedekah. Dia mengibaratkan saat ini uang lebih mudah dikeluarkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat daripada bersedekah. Saat ini, lebih banyak pergi ke mal daripada mengeluarkan zakat mal. Misalny, ada uang Rp 5.000 dan Rp 100 ribu, maka yang akan digunakan untuk sedekah yang Rp 5.000.

"Kesempatan untuk menggapai Ramadhan belum tentu bisa didapatkan kembali. Oleh karena itu jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa ada keberkahan baik bagi diri sendiri maupun orang lain," ujarnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA