Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Mengupas Makna Man Jadda Wajada

Senin 19 Nov 2018 00:29 WIB

Red: Irwan Kelana

Ustaz Djindar Rohani  membedah buku

Ustaz Djindar Rohani membedah buku "Santri Profesional yang Mendunia".

Foto: Dok KARIB
Tidak hanya urusan akherat, tapi dunia juga harus dikejar.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGSEL --  “Siapa bersungguh-sungguh, maka akan berhasil”. Begitulah  tulisan yang tertera pada slide pertama dalam Kajian Duha di Masjid Baitussalam The Green-BSD City. Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten,  Ahad  (18/11)  pagi.

Kajian Duha kali ini diisi oleh seorang santri yang anti mainstream, santri yang terjun ke dunia profesi yakni menjadi seorang akuntan. Dia adalah Ustaz Djindar Rohani yang  juga merupakan seorang pakar kepatuhan. Ia sering mengisi dan mengadakan pelatihan di berbagai instansi untuk memperbaiki sistem dengan konsep kepatuhan.

Menjadi Santri Profesional yang Mendunia, begitu judul buku yang dibedah pada kajian dan sharing session dengan tema “60 Tahun Refleksi Man Jadda Wajada”.

Di awal pembahasan,  Djindar Rohani menekankan,  dalam menjalani kehidupan dibutuhkan kesungguhan tekad dan perjuangan.  “Inilah yang dikenal dalam pepatah arab ‘Man Jadda Wajada’ yang diartikan di Indonesia,  ‘Siapa yang berbuat lebih maka akan mendapatkan lebih’,” ujar Djindar Rohani dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Ahad (18/11).

Ia mencontohkan, orang yang dalam karirnya berusaha lebih banyak, maka otomatis dia akan mendapatkan hasil yang lebih. Baik jabatan ataupun materi pasti akan mengikuti.

“Dalam hal ibadah, orang yang hanya melakukan hal-hal yang wajib saja pasti berbeda hasilnya dengan yang mengerjakan wajib dan sunnah. Karena fungsi dari ibadah sunnah adalah untuk menyempurnakan ibadah yang wajib,” paparnya.

Selanjutnya Djindar menjelaskan kiat-kiat sukses, arti sukses dan kesuksesan yang sebenarnya. “Sukses hakiki, sukses dunia dan sukses akherat,  inilah inti dari tujuan manusia diciptakan,” tuturnya.

Menurut Djindar, pelajaran dan pengalaman yang paling memberikan pengaruh dalam hidup dan karirnya adalah nilai-nilai yang ditanamkan oleh pondok Gontor. Tidak hanya untuk urusan akherat,  tapi dunia juga harus dikejar.

“Inilah yang membawa saya sampai seperti sekarang ini. Nilai-nilai yang sudah mengakar di dalam jiwa dan sanubari para santri Gontor. Ajaran ‘Panca Jiwa’  yang di dalamnya terdapat jiwa keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah dan terakhir bebas tetapi bertanggung jawab,” paparnya.

Djindar yang juga menjabat sebagai ketua DKM Masjid Baitussalam The Green BSD  mengajak kepada umat Islam untuk bisa mengabdi kepada agama dan bangsa. Menurutnya, banyak hal yang bisa dilakukan untuk agama seperti memakmurkan masjid, mengadakan majelis ilmu dan lain sebagainya.

Dalam hal pengabdian untuk bangsa,  Djindar hadir dengan membawa konsep kepatuhan yang diharapkan bisa menjadi solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. “Konsep ini mengajak semua masyarakat untuk bisa membangun budaya dan etika kepatuhan yang baik dan benar di setiap lingkungan dengan menjaga tekad dan konsistensi untuk selalu memperbaiki diri,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya,  Djindar menambahkan, semakin keras usaha yang dilakukan maka hasil yang didapatkan akan semakin membahagiakan. Seperti seorang pendaki gunung yang berhasil mendaki ke puncak gunung yang tertinggi.

Pada sesi tanya jawab,  antusiasme para jamaah yang ingin bertanya, sangat besar. Salah satu pertanyaan dari Hafiz Hidayat yang menanyakan bagaimana menghadapi rintangan-rintangan yang ada khususnya di dunia profesionalisme, terkait pihak yang tidak setuju dan mencemooh.

Pertanyaan tersebut langsung dijawab Djindar. Dengan sangat yakin dan tenang, ia mengatakan,  “Lakukanlah yang terbaik, harus yakin dan berani bertanggung jawab,  juga selalu memperjuangkan kebenaran.”

Kemudian pakar akutansi ini juga menambahkan,  “Janganlah terlena dengan kesuksesaan sesaat, seperti orang yang berhasil dengan jalur instan dan tidak benar. Cukup lakukanlah yang terbaik pasti hasil yang terbaik akan datang.”

Kajian  ini terlaksana berkat kerja sama antara DKM Masjid Baitussalam BSD dengan Keluarga Remaja Islam BSD (KARIB) yang merupakan bagian dari Forum Masjid Mushalla BSD dan Sekitarnya. KARIB bertujuan untuk mewujudkan pemuda yang gemar mengaji dan bersilaturahim menuntut ilmu secara berjamaah.

“ Kami berharap bisa mengajak pemuda-pemudi khususnya di lingkungan BSD dan sekitarnya, bisa bersama-sama mengadakan kegitan yang bermanfaat seperti pengajian ini,” kata  Dally,  selaku penanggung jawab media di forum komunitas KARIB.

Masjid Baitussalam  sering mengadakan pengajian dengan penceramah level nasional dan internasional. Mereka antara lain, Ustaz Abdul Somad, Ustaz Abi Fakhri Nabhan Rabbani, dan Ustaz Adi Hidayat. Ustaz Adi Hidayat direncanakan  mengisi Tabligh Akbar,  Selasa (20/11), bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

FOTO2: SANTRI PROFESIONAL1 DAN 2

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA