Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Awal Mula Khalifah Utsman Satukan Bacaan Alquran

Selasa 12 Dec 2017 18:30 WIB

Rep: mgrol98/ Red: Agung Sasongko

Alquran

Alquran

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik lantunan indah ayat suci Alquran yang sampai saat ini dibaca oleh Muslim hampir di seluruh dunia ada ide brilian dari seorang khalifah bernama Utsman bin Affan di dalamnya.
Mushaf yang saat ini kita pegang dan gunakan untuk membaca Alquran adalah hasil dari Utsman bin Affan dalam upayanya menyatukan bacaan Alquran.

Dalam buku Kepemimpinan dan Keteladanan Utsman bin Affan yang ditulis oleh Fariq Gasim Anuz, diceritakan bagaimana awal mula upaya Utsman dan sahabatnya dalam mewujudkannya.

Sebelumnya Utsman menerima laporan dari Hudzaifah terkait terjadinya perselisihan antara umatnya tentang Alquran. Khalifah Utsman menanggapi laporan Hudzaifah denga baik dan segera bermusyawarah dengan beberapa orang sahabat di Madinah.

Lalu mereka sepakat untuk menyatukan bacaan Alquran dengan membuat Musaf agar bacaan Alquran sama di antara umatnya.  

Pertama kali yang dilakukan Khalifah Utman adalah membentuk satu tim ahli untuk melaksanakan tugas penulisan Alquran. mayoritas ulama  berpendapat ada empat orang, yaitu Zaid bin Tsabit dari Anshar. Kemudian dari Quraisy, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits. Mereka semua adalah orang-orang yang berilmu dan teliti. Selain itu, ada pula yang berpendapat 5 orang dan 12 orang.

Setelah membentuk tim, Utsman mengutus seseorang kepada Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khathab radhiyallahu anhuma. Ia meminta sebuah mushaf Alquran yang dibukukan  di zaman Abu Bakar.
Tim penulis pun menjadikan mushaf tersebut sebagai acuan dalam menjalankan tugas mereka. Kemudia mereka menulis ulang berdasarkan perintah Utsman.

Khalifah Utsman sendirilah yang mengawasi proses kodifikasi Alquran ini. Utsman berkata pada tim panitia, “Jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit dalam hal apapun pada Alquran, maka tulislah dengan lisan Quraisy. Kerena Alquran diturunkan dengan lisan Quraisy.”

Lalu saat para sahabat di Madinah datang dan mengawasi proses kodifikasi, Zuhri mengatakan, “Mereka berbeda pendapat dalam At Taabuut atau At Taabuuh. Para penulis Quraisy berpendapat At Taabuut, sedangakan Zaid memilih At Taabuuh. Perbedaan ini sampai pada Utsman. Lalu Utsman memerintahkan, “Tulislah At Taabuut. Karena ia turun dengan lisan Quraisy.”

Orang-orang yang memiliki catatan langsung dari Rasulullah sallallhu alaihi wasallam mendatangi tim tersebut dan mengujinya dengan pedoman mushaf dari zaman Abu Bakar.

Setelah selesai Mushaf Utsmani ditulis, Zaid bin Tsabit membacanya berkali-kali sebelum mushaf itu disalin. Khalifah Utsmani juga ikut mengoreksi dan membacanya untuk memperkuat validitas mushaf induk tersebut.

Setelah selesai Mushaf Utsmani dibuat, Utsman bin Affan mengirim beberapa salinan dari mushaf induk ke wilayah-wilayah dalam kekuasaannya. Para ulama berbeda pendapat berapa jumlah mushaf yang ditulis Utsman. Pendapat yang mahsyur menyebutkan bahwa mushaf Alquran diperbanyak menjadi lima. Di kirim ke Makkah, Madinah, Kufah, Syam, dan satu lagi dipegang oleh Utsman sendiri. itulah yang kemudian dikenal dengan mushaf Al Imam.

Selain itu, ada juga pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa mushaf tersebut digandakan menjadi enam. Empat di antaraya dikirim ke Makkah, Syam, Kufah, dan Bashrah, satu di Madinah. Mushaf itu dinamakan Al Madani Al’Aam.  Dan satu lagi dipegang Utsman.

Setiap mushaf yang dikirim itu disertai dengan pengajar yang mengajarkan kaum muslimin cara membacanya berdasarkan hadits-hadits shahih dan mutawir. Abdullah bin Sa’ib mengajarkan mushaf yang dikirim ke Mekkah, Mughirah bin Syiab mengajar di Syam, Abu Abdurrahman Sulami di Kufah, Amir bi Qash di Bashrah, Zaid bin Tsabit di Madinah.

Kemudian Utsman memerintahkan agar mushaf yang berbeda dihilangkan denga cara dibakar atau dicuci dengan air sampai tinta-tintanya hilang. Hal ini bertujuan agar kaum muslimin bersatu dalam satu mushaf.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA