Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

3 Masjid Keraton Mataram

Senin 10 Apr 2017 15:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Sejumlah abdi dalem melakukan prosesi Yoso Peksi Buraq di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Rabu (5/6).

Sejumlah abdi dalem melakukan prosesi Yoso Peksi Buraq di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Rabu (5/6).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Kerajaan Mataram Islam membawa pengaruh yang sangat besar dalam penyebaran agama Islam di Nusantara, khususnya Pulau Jawa. Metode dakwah yang digunakan mampu menarik simpati masyarakat yang saat itu mayoritas beragama Hindu dan Buddha.

Untuk memperlancar dakwah, penguasa Mataram saat itu membangun masjid yang letaknya tidak jauh dari keraton. Selain untuk beribadah, masjid juga digunakan untuk keperluan lain, khususnya mengatur strategi berdakwah.

Setelah Mataram terpecah dua menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, simbol-simbol keislaman tidak pernah hilang. Masing-masing keraton tetap membangun masjid yang berada di sekitar istana. 

Hingga kini masjid yang dibangun tersebut masih tegak berdiri. Aktivitas ibadah tetap dilaksanakan. Masjid ini menjadi saksi betapa besar peran dan pengaruh Mataram dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya Jawa. N

Masjid Gede Kauman

Masjid ini terletak tidak jauh dari Keraton Kesultanan Yogyakarta, persisnya di sebelah barat Alun-Alun Utara Yogyakarta. Lokasinya berada di kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Masjid Gede Kauman usianya lebih dari 200 tahun. Proses pembangunannya dilakukan 18 tahun setelah ditandatanganinya perjanjian Giyanti pada 1755. Sistem atap yang digunakan adalah tumpang tiga yang mengilustrasikan makna tataran kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan, yakni syariat, makrifat, dan hakikat.

Masjid ini terdiri dari bangunan induk dengan ruang utama sebagai tempat shalat yang dilengkapi dengan tempat imam atau mihrab. Di bagian kiri belakang terdapat "maksura" yang berfungsi sebagai tempat pengamanan raja, yakni Sri Sultan, jika shalat berjamaah di sini. N 

Masjid Ad Darojat Babadan

Masjid ini merupakan salah satu yang dibangun Kesultanan Yogyakarta. Ada beberapa masjid pathok yang dibangun, yaitu Mlangi di wilayah barat, Babdan di wilayah timur, Dongkelan Bantul di wilayah selatan, dan Masjid Jami' Pathok Negoro Plosokuning di wilayah utara.

Masjid Pathok Negoro Babadan, misalnya, berada di Desa Babadan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Masjid ini memiliki sejarah yang cukup unik. Pada masa Perang Dunia II, masjid ini digusur oleh penjajah Jepang. Hal itu karena Desa Babadan akan dijadikan pangkalan udara dan gudang senjata.

Pada 1960, Masjid Pathok Negoro di Desa Babadan kembali didirikan. Pembangunan itu dilaksanakan semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono IX. Namanya kemudian diganti menjadi Masjid Ad-Darojat. N

Masjid Agung Surakarta

Masjid yang berada di sisi utara Keraton Surakarta ini didirikan pada 1763 oleh Sunan Pakubuwono III. Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 19.180 meter persegi. Bangunannya bergaya tajug yang beratap tumpang tidak dan berpuncak mustaka (mahkota).

Pintu masuk Masjid Agung, semula bercorak gapura bangunan Jawa beratap Limasan. Pada zaman PB X dirubah menjadi corak Arab Persia, terdiri dari tiga pintu utama, dengan pintu tengah lebih luas dari dua pintu yang mengapitnya.

Tempat wudhu berada di sebelah utara. Pada awalnya, tempat wudhu yang disediakan adalah berupa kolam air yang luas. Akan tetapi, karena menjadi sarang nyamuk dan mendatangkan penyakit, kolam tersebut dikosongkan. Sebagai gantinya, dibangun tempat wudhu di sebelah utara serambi masjid.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA