Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Siapa yang Merancang Masjid Istiklal Sarajevo?

Kamis 02 Mar 2017 21:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Istiklal Dzamija

Masjid Istiklal Dzamija

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak berlebihan kiranya jika Ahmad Noe’man dijuluki sebagai arsitek spesialis masjid. Tak hanya Masjid Istiklal Sarajevo, lulusan Arsitektur ITB tahun 1958 ini juga mengarsiteki banyak masjid lain, salah satunya Masjid Salman ITB. Patut dicatat, Masjid Salman ITB merupakan karya pertamanya di bidang arsitektur masjid.

“Masjid Salman ITB memberi kesan dan semangat tersendiri untuk saya berkarya,” ucap Noe’man seperti dilansir laman salmanitb. com. Saat mengucapkan kalimat itu, ia baru saja mendapat anugerah MUI Award 2011.

Lahir di Garut, 10 Oktober 1925, Noe’man berayahkan Muhammad Jamhari yang merupakan pendiri Muhammadiyah Garut. Sebagai ulama, Jamhari kerap memprakarsai pembangunan sarana pendidikan dan masjid. Dalam hal ini, Jamhari selalu merancang semuanya sendiri dan Noe’man kecil selalu mendampingi sang ayah. Dari sinilah ketertarikan Noe’man terhadap arsitektur mulai tumbuh.

Pendidikan Sekolah Dasar Noe’- man diselesaikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Budi Priyayi Ciledug, Garut. Ia kemudian melanjutkan studi ke jenjang SMP di Meer Uitgebreid Lager Onderweijs (MULO) di kota yang sama. Namun, kemerde kaan Indonesia justru mengakibatkan sekolahnya ditutup sehingga ia melanjutkan sekolah ke MULO Yog yakarta. Di Kota Gudeg ini pula, Noe’man menjalani pendidikan berikutnya, yakni di SMA Muhammadiyah.

Setamat SMA, guna meraih citacitanya menjadi arsitek, ia melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia di Bandung pada 1948. Kala itu, cikal bakal kampus Institut Tekno logi Bandung ini belum memiliki jurusan arsitektur sehingga Noe’man memilih fakultas teknik sipil. Empat tahun kemudian, tepatnya 1952, ia mendengar kampusnya telah membuka jurusan arsitektur. Maka, dia pun langsung mengundurkan diri dan melanjutkan studinya di jurusan itu. Baginya, profesi arsitek memiliki nilai-nilai yang cocok untuk beramal saleh. Noe’man yakin, bermodalkan ilmu arsitektur, pensil, dan kertas, ia bisa berdakwah.

Pada 1958, Noe’man berhasil meraih gelar insinyur arsitektur. Awalnya, dia hendak dikirim untuk mengikuti program master di Kentucky, Amerika Serikat. Namun, dia lebih memilih menjadi dosen di ITB dan membuka biro arsitektur yang diberi nama Birano yang merupakan singkatan dari Biro Arsitektur Ahmad Noe’man.

Menyadari tidak adanya sarana untuk shalat di kampusnya, Noe’- man bersama kakaknya yang juga pengajar di ITB, Ahmad Sadali, memimpikan berdirinya sebuah masjid kampus di ITB. Pada 1964, bersama Prof TM Soelaiman, ketua tim delegasi Jajasan Pembina Masdjid (JPM) ITB, Noe’man berhasil bertemu Ir Soekarno, presiden Republik Indonesia ketika itu.

Kepada Presiden, Noe’man memperlihatkan rancangan masjid kampus ITB yang dinilai oleh Soekarno cukup futuristik ketika itu. Setelah perbincangan yang cukup alot, Soekarno merestui pendirian masjid kampus ITB dan menamainya Masjid Salman ITB. Mengapa dinamai Masjid Salman? Menurut Soekarno, nama itu terilhami dari nama seorang sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Alfarisi, perancang parit ketika Perang Parit.

Tak seperti masjid pada umumnya yang memiliki kubah, Masjid Salman ITB justru beratap rata. Di dalam ruangan utama masjid pun, tidak terdapat satu tiang pun. Hal ini untuk menghindari terpotongnya shaf shalat berjamaah. Dalam mendesain masjid, Noe’man menghindari pemborosan dan kemewahan yang berlebihan. “Akan lebih bermanfaat jika uang untuk itu disalurkan untuk keperluan yang lain,” lanjut penulis buku The Mosque as A Community Development Centreini.

Selepas merancang Masjid Salman ITB, Noe’man mengarsiteki banyak masjid lain di Indonesia, mulai dari Aceh, Bontang, hingga Makassar. Masjid Raya Pati, Masjid Taman Ismail Marzuki Jakarta, Masjid Al-Ghifari IPB Bogor, Masjid PT Pupuk Kujang, Masjid Al-Furqan UPI Bandung, dan Masjid Kompleks Perumahan Pramuka Cibubur Ja karta adalah beberapa contoh karya Noe’man. Karya lainnya adalah Masjid At Tin Jakarta dan Masjid Al- Markaz al-Islami Makassar.

Tak hanya di dalam negeri, karya Noe’man juga bertebaran di mancanegara. Dia adalah perancang mimbar Masjid Al Aqsa di Palestina (1993-1994). Dia pula yang mendesain Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan. Dan, yang fenomenal serta sempat mengguncang dunia adalah Masjid Istiklal (Istiklal Dzamija) di Sarajevo.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA