Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Sejarah Panjang Islam di Ekuador

Selasa 17 Jan 2017 05:53 WIB

Rep: Yusuf Assidiq/ Red: Agung Sasongko

Muslimah Ekuador tengah mengaji.

Muslimah Ekuador tengah mengaji.

Foto: blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Hubungan antara Islam dan Ekuador memiliki sejarah panjang. Pada akhir abad ke-19 M, Islam untuk kali pertama datang ke negara tersebut, yakni ketika umat Muslim dari Mesir dan negara-negara Syam hijrah ke benua Amerika untuk mencari kehidupan baru.

Umumnya, mereka datang ke benua Amerika dengan menggunakan visa Turki karena negara-negara asal mereka masih berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani ketika itu. Mereka yang hijrah rata-rata berprofesi sebagai pedagang. Karena itu, masyarakat Ekuador juga dominan melaksanakan aktivitas perdagangan.

Dari catatan yang ada, orang Islam pertama yang bermukim di Ekuador berasal dari Timur Tengah, antara lain dari Lebanon, Palestina, Syria, dan Mesir. Mereka bermigrasi dengan alasan yang sama ketika datang ke Amerika Latin, yakni menghindari Perang Dunia I dan II. Namun, karena memegang paspor Turki, mereka kemudian lebih dikenal sebagai orang Turki.

Komunitas Muslim pertama menetap di ibu kota Quito dan Kota Guayaquil, kota pelabuhan terbesar di negara ini. Dari kota-kota itu, mereka lantas menyebar ke beberapa provinsi, seperti Manab, Los Rios, dan Esmeralda.

Situasi dan kondisi Ekuador yang kondusif dan aman tenteram membuat kaum imigran Muslim merasa betah tinggal di sana. Di samping itu, tradisi kekeluargaan pada masyarakat Ekuador kerap mengingatkan mereka pada tradisi yang sama di negara asal.

(Baca: Kontribusi Lembaga Islam di Ekuador)

Warga Muslim pun banyak yang berdatangan. Maka, tak heran jika dalam waktu singkat, muncul sejumlah keluarga yang cukup terpandang, misalnya keluarga Dassum, Soloh, Shayyeb, A'riz, Becdach, Jairala, dan lain-lain.

Pada akhir 40-an, orang Kristen-Arab dan Muslim menggabungkan diri dalam satu kelompok etnis berdasarkan latar belakang. Namanya Lecla dan merupakan nama organisasi pertama mereka. Masalah perbedaan agama tidak  menjadi hambatan untuk menjalankan kegiatan.

Ekuador juga menjadi lokasi persinggahan imigran dari Timur Tengah yang ingin menuju Amerika Serikat. Mereka biasanya tinggal selama beberapa hari sebelum meneruskan perjalanan. Namun, ada kalanya mereka justru memilih menetap di Ekuador setelah melihat dari dekat kenyamanan dan toleransi dari warganya.

Setelah imigran asal Timur Tengah, kemudian berdatangan umat Islam asal Asia Selatan, seperti India-Pakistan. Mereka mulai datang sekitar pertengahan tahun 90-an. Adapun pada akhir 90-an, warga Muslim asal negara-negara Afrika, misalnya Liberia, Nigeria, Ghana, dan lain-lain, sampai pula di Ekuador.

Pada saat yang bersamaan, terjadi pula fenomena mualaf di kalangan warga lokal Ekuador. Hubungan timbal balik yang semakin akrab antara kedua komunitas masyarakat. Hal ini pada akhirnya menimbulkan simpati terhadap Islam hingga menjadikan sebagian mereka bersedia memeluk Islam.

Bersama dengan imigran Muslim lainnya, mereka lantas bergabung menyewa apartemen untuk keperluan ibadah, khususnya shalat Jumat. Tak lama kemudian, atas bantuan Kedutaan Mesir, mereka dapat menyewa sebuah ruang apartemen yang cukup representatif untuk keperluan yang sama.

(Baca Juga: Karena Lembaga Islam, Warga Ekuador Peroleh Hidayah)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA