Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Naik Kelas

Senin 09 Jan 2017 06:07 WIB

Red: Agung Sasongko

Musibah erupsi gunung berapi di Indonesia (ilustrasi).

Musibah erupsi gunung berapi di Indonesia (ilustrasi).

Foto: Antara/Irsan Mulyadi

Oleh:Bahagia

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suatu hari beberapa pemuda Quraisy mendatangi Aisyah sambil tertawa. Waktu itu, Ummul Mukminin sedang di Mina. Lalu, Aisyah bertanya, "Apakah yang membuat kalian tertawa?". "Si fulan jatuh tersungkur karena tersandung tali kemah sehingga lehernya atau matanya hampir saja melayang.

Aisyah berkata, "Janganlah kalian tertawa! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Setiap orang Islam yang terkena duri atau lebih besar dari itu, niscaya ditulikan (dinaikkan) untuknya satu derajat, dan dihapuskan untuknya satu dosa'." (HR Imam Muslim).

Pertama, seseorang yang dapat musibah tidak terus berduka. Musibah itu datang karena Allah sayang kepadanya. Allah ingin orang itu menjadi manusia yang kuat dan lebih tabah. Saat bersabar maka di situlah orang tadi naik pangkat.

Kedua, mengajarkan hidup agar lebih baik. Seseorang yang terkena musibah tidak mudah terkena musibah lagi. Musibah yang pernah dia alami akan menjadi pelajaran untuk kemudian merenungkan diri. Mencari jalan keluar atas musibah dan mengaca diri tentang perilaku apa yang dia lakukan.
 
Misalkan, terkena bencana alam. Orang harus mencari tahu akar masalah dari bencana. Apakah karena murni kerusakan alam atau perilaku manusia. Saat bencana terjadi karena perilaku manusia maka manusia sejatinya memperbaiki ekologis agar tidak menimbulkan bencana.

Ketiga, tumbuh rasa kepedulian kepada orang lain. Seseorang yang sudah pernah mengalami bencana senantiasa akan sayang kepada saudaranya. Apalagi, kalau saudaranya terkena musibah. Dia akan membantu saudaranya. Memberikan tempat tinggal dan bantuan makanan, minuman, serta pakaian.

Keempat, menumbuhkan perilaku adaptasi dan antisipasi terhadap bencana. Adaptasi dapat diartikan penyesuaian diri terhadap bencana. Pemerintah akan bersiap untuk melakukan adaptasi kepada daerah yang rawan bencana. Mempersiapkan semua perlengkapan dan membangun berupa bangunan fisik yang bisa tahan jika terjadi bencana alam.

Selain itu, dapat dilakukan dengan membangun bendungan untuk menampung air hujan, jika bencana itu bencana banjir. Masyarakat pun lebih berantisipasi sebelum terjadi bencana.

Kelima, menumbuhkan pendidikan bencana. Seseorang yang mengalami bencana akan memperkuat nilai keimanannya. Apalagi, kalau dia tahu bahwa dirinya yang salah.  Misalkan, salah memilih pemimpin. Pemimpin tidak beriman sehingga kebijakannya menimbulkan bencana ekologis dan sosial. Pilihlah pemimpin yang beriman, jujur, berani, adil, cerdas, bertanggung jawab, dan imannya bagus.

Terakhir, mengajarkan agar hidup selalu berjamaah. Manusia secara individual akan kesulitan saat tertimpa bencana. Nilai kebersamaan dapat mengurangi beban berat yang sedang dipikul. Pegertian berjamaah di sini sangat luas. Mulai dari berjamaah saat shalat sampai berjamaah dalam aktivitas sosial. Ketahanan sosial ini yang kemudian membantu masyarakat untuk hidup lebih baik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA