Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

Kontroversi Syekh Yusuf Al Qaradawi

Selasa 27 Sep 2022 04:37 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah

Ulama Mesir Sheikh Yusuf al-Qaradawi berbicara di Masjid Al Azhar di Kairo, 28 Desember 2012. Kontroversi Syekh Yusuf Al Qaradawi

Ulama Mesir Sheikh Yusuf al-Qaradawi berbicara di Masjid Al Azhar di Kairo, 28 Desember 2012. Kontroversi Syekh Yusuf Al Qaradawi

Foto: REUTERS/Amr Abdallah Dalsh
Yusuf Al Qaradawi memilih tidak menjadi pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Ulama ternama Islam, Syekh Yusuf Al Qaradawi dikabarkan meninggal dunia pada Senin (26/9/2022). Mengutip dari Anadolu Agency, tokoh kontroversial tersebut wafat pada usia 97 tahun dan belum ada informasi detail tentang peristiwa ini.

Dilansir dari Arab News, Qaradawi lahir di desa Saft Turab di Delta Nil, Mesir. Ia adalah seorang teolog Islam, dibesarkan oleh pamannya setelah ayahnya meninggal. Di sana, ia menghadiri “kuttab” (sekolah Alquran) untuk menghafal Alquran pada usia 9 tahun.

Baca Juga

Dia akhirnya mulai memimpin sholat Ramadhan di daerahnya, dan bergabung dengan Institut Studi Agama di kota Tanta Mesir yang lulus sembilan tahun kemudian. Ia bertemu dengan pendiri Ikhwanul Muslimin, Hassan Al-Banna, saat memberikan pidato di sekolah tersebut.

Tulisan-tulisan Al-Banna mempengaruhi dan membentuk pemikiran politik dan agama Al Qaradawi selama bertahun-tahun berikutnya. Namun, lalu Ikhwanul dianggap berbahaya oleh Mesir pada 1940-an, bahkan disebut organisasi teroris oleh banyak negara di akhir abad ini.

Sebagai seorang pemuda, Al Qaradawi menghadiri pertemuan dan ceramah Ikhwanul, dan bergabung dengan sayap pemudanya pada usia 14 tahun setelah bertemu Al-Banna. Al Qaradawi kemudian melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, belajar teologi Islam dan lulus pada 1953.

Dia dipenjara pada masa pemerintahan Raja Farouq pada 1949, dan tiga kali di bawah Gamal Abdel Nasser. Alasannya karena merencanakan upaya pembunuhan yang gagal terhadap presiden pada 1954, berkhutbah menentang kehadiran komando Inggris di Mesir, dan untuk aktivitas politik Islam yang meningkat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA