Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Studi: Diperlukan Lebih Banyak Sumber Daya untuk Lindungi Kekayaan Budaya Arab

Senin 08 Aug 2022 08:00 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Agung Sasongko

Puluhan mobil bus antre menunggu jamaah haji mengunjungi industri pengolahan atah ekstrak bunga mawar di daerah Thaif, Sabtu(16/7). Selain jamaah haji Indonesia banyak jamaah haji seluruh dunia mengunjungi tempat ini.

Puluhan mobil bus antre menunggu jamaah haji mengunjungi industri pengolahan atah ekstrak bunga mawar di daerah Thaif, Sabtu(16/7). Selain jamaah haji Indonesia banyak jamaah haji seluruh dunia mengunjungi tempat ini.

Foto: Republika/Ali Yusuf
Negara-negara Arab adalah rumah bagi warisan dunia.

REPUBLIKA.CO.ID,JEDDAH -- Sebuah studi yang dilakukan universitas di Saudi menyerukan peningkatan upaya memerangi kelompok teror. Hal ini merupakan bagian dari kampanye melindungi warisan budaya di negara-negara Arab.

Studi tersebut dilakukan oleh Universitas Naif Arab untuk Ilmu Keamanan (NAUSS) di Riyadh. Di dalamnya, disoroti peran penting yang dimainkan undang-undang nasional, dalam menjaga kekayaan budaya dari aktivitas ekstremis yang berusaha merusak monumen bersejarah dan situs arkeologi.

Baca Juga

Negara-negara Arab adalah rumah bagi warisan dunia, agama dan kekayaan budaya yang diakui sepanjang sejarah. Namun, beberapa di antaranya menghadapi ancaman dari faktor yang tidak terkendali, seperti perang dan barang antik yang dijarah, yang mengakibatkan kerusakan pada monumen bersejarah dan situs arkeologi.

Dilansir di Arab News, Senin (8/8), studi NAUSS mencatat wilayah Arab, rumah bagi peradaban manusia tertua dan tempat lahirnya agama monoteistik dunia, memiliki kekayaan budaya dan peradaban yang unik.

Namun, analisis kebijakan yang disiapkan oleh Pusat Penelitian Keamanan NAUSS, berjudul "Realitas dan Prospek Perlindungan Warisan Budaya di Kawasan Arab", menunjukkan beberapa negara Arab menghadapi tantangan dalam melakukan inventarisasi dan melacak kekayaan budaya mereka.

Berdasarkan penelitian tersebut, NAUSS, badan ilmiah Dewan Menteri Dalam Negeri Arab, lantas mengeluarkan rekomendasi yang bertujuan untuk melestarikan warisan Arab.

Yang paling penting adalah peningkatan pendanaan untuk memperkuat perlindungan situs budaya dan warisan. Di sisi lain, diperlukan dukungan atas upaya Interpol dalam melacak barang dan artefak yang dijarah.

Hasil studi ini juga merekomendasikan untuk memanfaatkan pelatihan yang ditawarkan oleh organisasi mitra global. Hal ini untuk mengembangkan kemampuan pasukan keamanan dan lembaga peradilan.

Rekomendasi lainnya adalah investasi yang lebih besar dalam konservasi dan keamanan di situs arkeologi, serta peningkatan koordinasi dengan Organisasi Pabean Dunia dalam upaya mencegah perdagangan dan penyelundupan barang antik.

Di arena diplomatik dan peradilan, studi tersebut menyerukan peningkatan upaya Arab untuk memulihkan barang-barang warisan yang dijarah. Undang-Undang nasional juga didorong agar lebih kuat melindungi situs-situs kuno, sekaligus dilakukan ratifikasi perjanjian internasional untuk melindungi warisan dan barang antik. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA