Selasa 27 Oct 2020 14:10 WIB

Harapan Obama 2009 untuk Islam, Tapi Gagal demi Israel

Pidato segar Obama untuk Islam 2009 tapi tak terealisasi di hadapan Israel.

Pidato segar Obama untuk Islam 2009 tapi tak terealisasi di hadapan Israel. Barack Obama.
Foto: AP
Pidato segar Obama untuk Islam 2009 tapi tak terealisasi di hadapan Israel. Barack Obama.

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika Presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama berpidato di Universitas Al-Azhar, Kairo, pada 12 Juni 2009, yang di antaranya menyatakan akan melakukan rekonsiliasi dengan Dunia Islam melalui upaya mendamaikan Palestina-Israel secara adil, muncul optimisme sayup-sayup Dunia Islam dan khususnya Dunia Arab.

Obama diharapkan bersedia menekan Israel agar berdamai dengan Palestina berdasarkan situasi wilayah sebelum Perang 1967. Dan mengubah kebijakan unilateral terhadap Dunia Islam.

Baca Juga

Memang selama Presiden George Walker Bush berkuasa, hubungan Dunia Islam dan Amerika Serikat bertambah buruk karena kebijakan-kebijakannya yang keras dan tidak simpatik terhadap Dunia Islam. 

Ia menyerang Afghanistan dan membuat ribuan penduduk sipil yang tidak berdosa  menjadi korban. Ia kemudian membiarkan invasi Israel ke wilayah Palestina di Tepi Barat dan Gaza pada 2002 yang memakan begitu banyak korban, malah hingga membawa kematian bagi Yaser Arafat.

Setahun kemudian ia memerintahkan tentara Amerika Serikat menyerbu Irak atas tuduhan Saddam Hussein masih menyembunyikan senjata pembunuh massal. 

Terbukti, tuduhan itu tidak benar dan mengada-ada. Sebenarnya ia bermaksud menguasai minyak Irak. Lalu, ia mengancam akan menyerang Iran secara militer bila upaya diplomasi tidak jalan terkait dengan program nuklir Iran. 

Kendati Iran telah berulang kali menyatakan program nuklirnya bertujuan damai dan sesuai dengan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), ia menyatakan itu hanya kedok dan menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, meskipun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) membantah tuduhan Bush. Semua itu telah merusak hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam.

Menyadari hal ini, Obama coba meyakinkan Dunia Islam bahwa ia akan mengubah kebijakan AS. Tapi nampaknya apa yang dikatakan Obama itu hanya isapan jempol. Ia belum menarik lebih dari seratus ribu pasukan Amerika Serikat dari Irak dan menambah 30 ribu pasukan ke Afghanistan untuk membasmi Taliban. Ia juga terus menekan Iran sebagaimana pendahulunya George Walker Bush.

Yang tak kurang memprihatinkan, ia tidak berdaya menghadapi Israel yang masih juga memblokade Gaza dan membangun pemukiman Yahudi yang baru di Tepi Barat dan Yerusalem. Utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, George Mitchell, yang bolak-balik  menemui pemimpin Israel tidak mampu membujuk Negara Zionis itu untuk bersikap rasionil terhadap Palestina. Bahkan membiarkan Israel terus mempertahankan blokade terhadap Gaza.

*Naskah cuplikan dari Smith Alhadar, Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies yang tayang di Harian Republika.

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement