Santri Tutup Telinga, Komisi VIII : Jangan Labeli Radikal

Setiap orang punya teknik dan kapasitas memorinya sendiri dalam mengingat sesuatu.

Jumat , 17 Sep 2021, 11:13 WIB
Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto menilai siapapun tak perlu sinis kepada sikap para santri yang menutup telinganya ketika ada alunan musik, seperti video yang beredar di media sosial.  (ilustrasi)
Foto: Republika/Nawir Arsyad Akbar
Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto menilai siapapun tak perlu sinis kepada sikap para santri yang menutup telinganya ketika ada alunan musik, seperti video yang beredar di media sosial. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto menilai siapapun tak perlu sinis kepada sikap para santri yang menutup telinganya ketika ada alunan musik, seperti video yang beredar di media sosial. Ia menilai wajar para santri menutup kupingnya saat itu, karena menjaga hafalan Alquran bukanlah sesuatu yang mudah.

"Jangan gampang melabeli orang lain radikal lah, itu sikap yang biasa. Mereka santri penghafal Alquran, wajar saja jika ingin memilih fokus pada hafalannya dan tidak mau mendengar musik. Itu hak mereka," ujar Yandri kepada wartawan, Jumat (17/9).

Menurutnya, setiap orang punya teknik dan kapasitas memorinya sendiri dalam mengingat sesuatu. Apalagi jika mereka adalah santri penghapal Alquran yang memiliki tekniknya masing-masing. "Kalau santri penghafal Alquran tidak mau telinganya diisi memori lain selain Alquran, itu pilihan mereka. Tidak menjelaskan mereka radikal," ujar Yandri.

Di samping itu, ia meminta masyarakat tidak meributkan hal-hal yang tidak substansial, apalagi sambil menuduh pihak-pihak tertentu radikal. Menurutnya, sikap para santri juga sudah sangat terpuji karena mereka mengikuti vaksinasi.

"Itu sikap dari pondok, pengasuh, dan para santrinya yang luar biasa. Soal tidak mau mendengarkan musik, boleh saja. Mereka tidak merugikan siapapun, tidak melanggar hukum," ujar Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu.