Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

DPR: Usut Tuntas Kasus Kejahatan Seksual Anak di Media Sosial

Kamis 16 Mar 2017 04:26 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Dwi Murdaningsih

Prostitusi anak korban gay. Ilustrasi

Prostitusi anak korban gay. Ilustrasi

Foto: Reuters dan sumber lain

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Iskan Qolba Lubis minta kepolisian segera usut tuntas kasus prostitusi daring yang melibatkan anak di bawah umur (pedofil) belakangan ini. Sebab, dari keterangan Polda Metro Jaya, pelaku diduga merekam kejadian tersebut dalam bentuk video, lalu menyebarkannya ke dalam beberapa akun grup media sosial, sehingga tersebar hingga ke luar negeri.

"Polisi harus mampu mengusut tuntas para pelaku yang memperalat anak sebagai objek seksual. Apalagi hal ini disinyalir merupakan jaringan internasional dengan memanfaatkan media sosial," kata Iskan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/3).

Iskan menambahkan bahwa kejahatan seksual terhadap anak memang sudah amat memprihatinkan. Mengingat angka kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Prostitusi Online Jadi Cermin Buruknya Perlindungan Anak

"Untuk membendung terus meningkatnya angka kejahatan seksual terhadap anak, maka perlu penegakan hukum yang tegas," tegas wakil rakyat PKS dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara II ini.

Selain itu, menurut Iskan, diperlukan penguatan ketahanan keluarga, yang merupakan benteng terakhir bagi perlindungan anak. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan sistem yang mampu berikan peringatan dini (early warning system) kepada masyarakat luas. Sehingga, masyarakat menjadi waspada jika ada ancaman terhadap jenis kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan terdekatnya.

"Kami berharap pemerintah memberikan dan menciptakan sistem seperti itu di tengah masyarakat, mengingat kejahatan seksual terhadap anak sudah amat darurat," kata Iskan.

Dari sisi korban, pemerintah juga perlu melakukan tindakan rehabilitasi yang tepat dan cepat, terutama bagi mereka yang sudah sampai pada taraf traumatik. "Karena jika tidak dilakukan proses penyembuhan (healing) seperti itu, maka bisa jadi akan tertular perilaku penyimpangan seksual," kata Iskan.

Diketahui, baru-baru ini Polda Metro Jaya menangkap empat pelaku yang berperan sebagai admin dan anggota grup Facebook Official Candy’s Group. Para pelaku tersebut memiliki koneksi untuk berbagi konten foto dan video pelecehan anak yang berasal dari negara lain. Sejauh ini, Kapolda Metro Jaya, Iriawan, siap untuk membongkar jaringan kejahatan internasional ini, bekerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler