Ahad 02 Oct 2022 00:39 WIB

Jusuf Kalla Soroti Kemunduran SDM Orang Minangkabau

JK menilai perlu mengembalikan marwah Minang dalam urusan agama Islam.

Wakil Presiden (Wapres) RI 2004-2009 dan 2014-2019 HM Jusuf Kalla. JK menyoroti kemunduran sumber daya manusia (SDM) Minangkabau yang tidak lagi seperti dahulu.
Foto: Republika/Alkhaledi kurnialam
Wakil Presiden (Wapres) RI 2004-2009 dan 2014-2019 HM Jusuf Kalla. JK menyoroti kemunduran sumber daya manusia (SDM) Minangkabau yang tidak lagi seperti dahulu.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Wakil Presiden (Wapres) RI 2004-2009 dan 2014-2019 HM Jusuf Kalla (JK) menyoroti kemunduran sumber daya manusia (SDM) Minangkabau yang tidak lagi seperti dahulu. Sehingga, hal ini perlu menjadi perhatian bersama agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa.

"Orang Minangkabau keutamaannya adalah berpikir. Mereka bekerja dengan otak tidak dengan otot, dan hal ini dibuktikan dengan banyaknya tokoh Minangkabau menjadi tokoh nasional. Namun saat ini sudah berkurang," kata JK dalam pidato HUT ke-77 Sumbar, di Padang, Sabtu (1/10/2022).

Baca Juga

Menurut dia, Bung Karno pernah berucap bepikirlah seperti orang Minang, berbicara seperti orang Batak dan bekerja seperti orang Jawa. Ini menandakan sumber daya manusia orang Sumatera Barat yang bagus mampu melahirkan tokoh seperti Hatta, Sjahrir, Yamin, M Natsir, dan lainnya.

"Sebagian besar mereka adalah tokoh yang menjadi pelopor kemajuan bangsa ini," kata dia pula.

Ia mencontohkan pada tahun 1921 sudah ada tokoh Minang yang menjadi doktor yakni M Djamil. Sementara di Sulawesi Tenggara, orang baru menjadi sarjana pada 1949, bahkan sarjana pertama di Betawi ada pada 1956.

Menurut dia, ada perbedaan waktu antara Minang dengan Bugis, Sulawesi Selatan yakni sekitar 30 tahun soal pendidikan. Ini menunjukkan kemajuan pendidikan di Minang dibanding daerah lain.

"Bahkan, guru-guru dari Minang ini dulu dikirim ke seluruh daerah untuk meningkatkan pendidikan bangsa, dan salah satunya mertua saya yang dikirim sebagai kepala sekolah Muhammadiyah ke Makassar," kata JK lagi.

Pada zaman dulu, pemuda Minang ini seusai makan di rumah langsung pergi ke surau. Di sana mereka belajar tentang agama, silat, dan lainnya, sehingga hubungan kekerabatan mereka di surau itu kuat.

Selain itu, sistem matriakat di Minangkabau membuat lelaki itu harus merantau ke daerah lain dan mereka harus bertahan hidup di sana. "Ini yang membuat mereka bertahan hidup dengan berdagang dan menjadi semakin kuat, sehingga memunculkan dunia usaha yang baik," kata dia pula.

Pada saat ini pemuda Minang tak ada lagi yang berkumpul di surau, mereka sibuk di rumah dan menonton televisi dan lainnya. Ada yang mengubah pola hidup pemuda Minangkabau dan ini menjadi pemikiran bersama bagaimana ke depan agar ada upaya untuk menjadikan mereka lebih baik lagi.

Selain itu, dulu di Jakarta tahun 1960 dari 10 masjid yang menggelar Shalat Jumat, delapan dari 10 masjid yang ada khatib Jumat adalah orang Minang. Bahkan, yang mengislamkan orang Bugis adalah orang Minang.

Bahkan dulu orang belajar agama ke Thawalib Padang Panjang. Namun saat ini orang ke Padang Panjang untuk makan sate. Pemuda Minang malah belajar agama ke Gontor dan Pulau Jawa. Selain itu, penceramah Minang juga tak tampak lagi, malah orang Bugis yang banyak seperti Das'ad Latief, Maulana, Quraish Shihab, bahkan Imam Besar Masjid Istiqlal saat ini orang Bugis.

"Pak Gubernur, perlu suatu upaya memajukan kembali tingkatkan pengetahuan keagamaan dan mampu kembalikan marwah orang Minang dalam urusan agama Islam. Ada suatu degradasi dari sisi pendidikan keagamaan yang perlu diperbaiki di sini, ini tentu jadi perhatian," kata JK pula.

Dia berharap orang Minangkabau tidak fokus melihat ke belakang, namun harus melihat ke depan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk anak cucu mereka. "Kalau terus melihat ke belakang, nanti akan tertabrak, Fokus ke depan untuk mempersiapkan segala sesuatunya," katanya pula.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement