Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Kader PDIP akan Diwajibkan Injakkan Kaki ke Titik Nol Sabang dan Merauke

Jumat 23 Sep 2022 22:54 WIB

Red: Agung Sasongko

bersilaturahmi dengan kader PDIP di Sabang serta tokoh masyarakat setempat di Kota Sabang, Jumat (23/9/2022) malam.

bersilaturahmi dengan kader PDIP di Sabang serta tokoh masyarakat setempat di Kota Sabang, Jumat (23/9/2022) malam.

Foto: istimewa
Kepala derah kader PDIP akan diwajibkan kunjungi Titik Nol Sabang dan Merauke.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Dr. Hasto Kristiyanto mengatakan pihaknya akan mewajibkan para kader partainya yang menjabat sebagai kepala daerah untuk menginjakkan kaki di Kilometer Nol di Sabang, Provinsi Aceh.

Hasto mengatakan itu usai meninggalkan Tugu Kilometer Nol, berbelanja di sana, dan lalu bersilaturahmi dengan kader PDIP di Sabang serta tokoh masyarakat setempat di Kota Sabang, Jumat (23/9/2022) malam.

Baca Juga

"Dari Kilometer Nol inilah kita merasakan langsung Indonesia Raya kita. Banyak pejabat dan elite yang melihat Indonesia hanya dari peta saja. Tanpa merasakan langsung wilayah Indonesia kita yang luar biasa. Belum lagi sejarah peradabannya, karya kebudayaannya. Maka Indonesia adalah satu kesatuan kebudayaan yang satu jiwa. Makanya Bung Karno menyebut Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke, yang mencerminkan tekad dan satu kesadaran sosial bagi kepeloporan Indonesia bagi dunia," ujar Hasto dalam keterangan tertulisnya.

"Maka itu kami akan wajibkan kepala daerah dari PDI Perjuangan harus menginjakkan kaki ke titik Kilometer Nol di Sabang ini dan juga di Merauke, Papua," tambahnya.

Hasto juga berbicara mengenai kesadaran yang muncul dari peristiwa tsunami Aceh di tahun 2004. Saat itu, hampir seluruh negara di dunia datang dan memberikan bantuan ke Aceh. Bahkan saat itu Aceh terlihat menjadi bukan hanya milik Indonesia, namun milik dunia. Karena mengalir bantuan dari seluruh dunia. 

"Semua membantu tanpa membedakan di Aceh ini apa suku dan agamanya, tapi murni karena kemanusiaan. Begitupun Aceh menerima bantuan itu tanpa melihat apa agama dan suku bangsa yang memberikan bantuan. Maka tsunami membuka pemahaman bahwa nilai kemanusiaan bekerja. Ini harus membuka kesadaran bahwa kita harus membuka diri. Tentu yang datang harus sesuaikan dengan kebiasaan sini, kultur disini? tapi dari kita juga harus membuka diri," urai Hasto.

Hasto lalu memberi contoh bagaimana Jepang membangun sebuah universitas dan memberikan beasiswa bagi warga negara yang membantu mereka saat terjadi bencana akibat tsunami yang ikut merusakkan reaktor nuklir Fukushima. 

"Maka Aceh dengan relijiusitasnya yang tinggi, kita harus gelorakan semangat terbuka dengan membuka diri. Sehingga orang datang ke Aceh dan melihat bahwa Aceh adalah bagian dari Indonesia yang memiliki daya survival yang tinggi dengan budaya termasuk kulinernya yang luar biasa," ujarnya.

Hasto juga mengatakan pihaknya mendorong agar aparat pemerintahan setempat mendorong keterbukaan Aceh tersebut lewat cara-cara kreatif. Misalnya dengan membuat channel di soaial media seperti Youtube yang menunjukkan apa yang terjadi di Aceh, masyarakatnya, tradisi minum kopi dan main caturnya. Juga mengenai tradisi kulinernya yang luar biasa.

"Mumpung para pemimpin di Aceh masih muda, buatlah terobosan, acara kreatif melalui media sosial untuk umumkan ke Idonesia dan dunia bahwa Aceh luar biasa. Gelorakan visit to Aceh. Saya yakin Aceh akan menjadi destinasi penting," kata Hasto.

Menurut Hasto, seluruh elemen di Aceh harus mendobrak atmosfer yang masih ada kesan sepertinya Aceh ini tertutup. Padahal masyarakatnya sangat ramah, kokoh pada prinsip dan punya kehendak maju yang kuat. 

"Sampaikan ke dunia, kita gelorakan semangat untuk menjadi tuan rumah yang baik, dengan agama Islam dan adat istiadatnya. Karena Aceh identik dengan semangat, struggling, tak pernah menyerah. Ini harus digelorakan," katanya.

"Jadi kita disini membuka diri untuk bertindak keluar sehingga orang luar datang ke sini, kita sajikan kuliner kita dengan penuh keramahtamahan. Ini modal kultural kita yang baik," pungkasnya.

Sebelum ke Sabang, Hasto melakukan pengguntingan pita untuk peresmian kantor DPC PDIP Aceh Besar.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA