Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Wali Kota Medan Minta Perhimpunan Dokter Ikut Atasi Kekerdilan

Kamis 27 Jan 2022 01:55 WIB

Red: Ilham Tirta

ilustrasi Stunting

ilustrasi Stunting

Foto: Republika/Mardiah
Angka kekerdilan pada anak diklaim menurun 20 persen dalam dua tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID,  MEDAN -- Wali Kota Medan, Bobby Nasution meminta Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) Cabang Sumatera Utara membantu pemerintah daerah mengatasi stunting atau kekerdilan. Permasalahan stunting, lanjut dia, masih menjadi permasalahan serius di daerahnya.

"Kami mengajak PDKI Sumut untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Medan dalam mengatasi permasalahan stunting pada anak di Kota Medan," terang Bobby di Medan, Rabu (26/1).

Baca Juga

Pemkot Medan mengatasi stunting dengan suatu program edukasi dan sosialisasi bagi pasangan yang akan menikah. Dengan demikian, pasangan tersebut menjadi tahu langkah apa yang harus dilakukan agar anak pertama mereka lahir terhindar dari stunting.

Data Pemkot Medan menyebut angka kekerdilan pada anak mengalami penurunan sekitar 20 persen setahun terakhir dari 491 anak pada 2020 menjadi 393 anak pada 2022 di Kota Medan. Pemerintah, kata Bobby, akan memberikan edukasi ke ibu-ibu muda atau para calon pengantin mengenai stunting, seperti apa dan cara mencegahnya bagaimana.

"Saya minta dokter, kalau memang tujuannya menangani stunting, kita fokuskan di situ. Kalau bisa teman-teman PDKI menyiapkan programnya, seperti apa menangani stunting di Kota Medan," kata dia.

Ketua PDKI Cabang Sumut, Dr dr Isti Ilmiati Fujiati mengaku pihaknya memiliki program penanganan stunting dengan memastikan kesehatan dan gizi yang cukup pada 1.000 hari pertama kehidupan. "Kami siap menerima ajakan pak wali berkolaborasi menangani stunting di Kota Medan. Kami akan menyiapkan program dengan pendekatan berbasis kemasyarakatan dan kekeluargaan," kata Isti.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA