Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Faktor Cuaca dan Penanganan di Tapak Turunkan Titik Panas

Selasa 15 Sep 2020 22:09 WIB

Red: Ratna Puspita

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan dua faktor membuat jumlah titik panas (hotspot) turun dibandingkan periode yang sama pada 2019. Faktor tersebut, yakni cuaca dengan musim kering yang lebih basah dan upaya pencegahan di tingkat tapak.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan dua faktor membuat jumlah titik panas (hotspot) turun dibandingkan periode yang sama pada 2019. Faktor tersebut, yakni cuaca dengan musim kering yang lebih basah dan upaya pencegahan di tingkat tapak.

Foto: republika
KLHK menyatakan jumlah titik panas turun dibandingkan periode sama tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan dua faktor membuat jumlah titik panas (hotspot) turun dibandingkan periode yang sama pada 2019. Faktor tersebut, yakni cuaca dengan musim kering yang lebih basah dan upaya pencegahan di tingkat tapak. 

"Kombinasi antara cuaca yang lebih bersahabat kemudian kinerja dari tim satgas daerah di lapangan itu yang membuat hotspot menurun, dan kalaupun ada hotspot yang berubah jadi firespot (titik api) tidak sampai membesar sehingga segera dilakukan upaya pemadaman atau penanggulangan," kata Kepala Sub Direktorat Pengendalian Karhutla KLHK Radian Bagiyono dalam konferensi pers virtual tentang pengendalian kebakaran hutan di tingkat tapak, dipantau dari Jakarta pada Selasa (15/9).

Menurut data matriks via satelit TERRA/AQUA yang diambil dari sistem pengawasan kebakaran hutan dan lahan KLHK SiPongi, titik panas pada Agustus 2020 sebanyak 945, turun jauh dibandingkan 3.428 titik panas dalam bulan yang sama pada 2019. Kondisi cuaca pada 2020 memang berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana tahun ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan terjadi kemarau relatif basah. 

Baca Juga

BMKG memperkirakan Agustus akan menjadi puncak dari musim kemarau dengan kondisi kering akan sudah mulai menurun pada September. Data KLHK menunjukkan terjadi penurunan luas kebakaran hutan dibandingkan sebelumnya dengan Januari-Agustus 2020 terdapat 120.536 hektare (ha) lahan yang terbakar dibanding 328.724 ha dalam periode yang sama pada 2019.

Artinya terjadi penurunan 63,33 persen luas kebakaran hutan dan lahan dibandingkan 2019 atau turun 208.188 ha. Namun, Radian mengatakan KLHK dan seluruh pemangku kepentingan di daerah tidak akan menurunkan kewaspadaan terkait ancaman kebakaran hutan dan lahan, mengingat fase krisis belum usai.

Hal itu karena secara umum musim kemarau Indonesia terjadi di bulan Juni sampai Oktober sehingga masih saat ini masih dalam posisi fase krisis ancaman munculnya titik panas dan titik api. "Khususnya kalau kita merujuk ke prediksi BMKG puncak musim kemarau kita akan berlangsung Agustus dan September sehingga kalau melihat konteks 2020, mudah-mudahan setelah Oktober kita sudah bisa melewati fase krisis. Tapi kita juga perlu waspada di beberapa tempat di Indonesia masih ada potensi kekeringan," tegasnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA