Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Menko PMK: Sambas Harus Bekerja Keras Tangani Stunting

Kamis 07 Jul 2022 11:23 WIB

Red: Ilham Tirta

Menko PMK Muhadjir Effendy.

Menko PMK Muhadjir Effendy.

Foto: ANTARA/Aprillio Akbar
Ada beberapa desa yang terdata sebanyak 252 anak yang terindikasi stunting.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menekankan agar Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat bekerja keras dalam menangani kasus stunting di daerah itu yang masih cukup tinggi, yakni 32,6 persen. Dari paparan Camat Sambas, masih ada beberapa desa yang terdata sebanyak 252 anak yang terindikasi stunting.

"Saya menilai pemaparan yang dilakukan Camat Sambas Halimus sangat menguasai masalah penanganan stunting," kata Muhadjir Effendy saat menghadiri webinar, dialog dan apresiasi program Bangga Kencana serta percepatan penurunan stunting dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29 secara virtual di Sambas, Kamis (7/7/2022).

Baca Juga

Agenda tersebut juga dihadiri oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo. Muhadjir mengingatkan, hingga saat ini prevalensi stunting di Kabupaten Sambas masih berada pada angka 32,6 persen atau masih sangat tinggi.

"Saya waktu jadi Mendikbud sering ke Sambas, termasuk membantu beberapa sekolah. Sambas masih perlu kerja keras untuk meningkatkan SDM, terutama penurunan stunting," katanya.

Dia meminta kepada Camat Sambas jika menghadapi kendala terkait program sanitasi di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) agar dapat berkomunikasi dengan Kemenko PMK. Sebab, untuk pengadaan sanitasi dalam rangka menangani stunting dengan kemiskinan ekstrem, KemenPUPR perlu rekomendasi dari Kemenko PMK.

"Bapak (Camat Sambas) perlu kerja keras, karena angka stunting-nya masih sangat tinggi," jelas Muhadjir.

Camat Sambas Halimus mengatakan, pada 2021 sudah ada beberapa desa di Kecamatan Sambas yang telah terbebas dari stunting. Namun, untuk 2022 ada beberapa desa terdata sebanyak 252 anak yang terindikasi stunting. "Dengan masih banyaknya jumlah anak yang stunting tersebut, perlu menjadi perhatian semua pihak, yakni tingkat partisipasi masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan partisipasi terutama bagi ibu hamil untuk mengecek kandungannya ke Puskesmas. Menurut dia, masih ada beberapa desa yang tingkat kesadaran orang tua untuk melaksanakan penimbangan berat badan bayi dan pengecekan ke Puskesmas kurang, sehingga menjadi pekerjaan rumah bersama.

"Kami juga bekerja keras dalam upaya percepatan penurunan stunting," katanya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA