Senin 14 Feb 2022 14:25 WIB

Alat Musik Tradisional Jadi Sarana Edukasi di Pecinan Pontianak

Pecinan Pontianak menggelar seni pertunjukan alat musik tradisional Tionghoa

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Dua remaja Tionghoa memainkan alat musik tradisional Tiongkok berupa Kecapi Guzheng dan Pipa saat menggelar pertunjukan di kawasan Gajahmada 9, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (12/2/2022). Pertunjukan alat musik tradisional Tiongkok dari Pecinan Pontianak Chinatown Indonesia (PPCI) tersebut digelar menjelang perayaan Cap Go Meh 2022 pada Selasa (15/2/2022) mendatang.
Foto: Antara/Jessica Helena Wuysang
Dua remaja Tionghoa memainkan alat musik tradisional Tiongkok berupa Kecapi Guzheng dan Pipa saat menggelar pertunjukan di kawasan Gajahmada 9, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (12/2/2022). Pertunjukan alat musik tradisional Tiongkok dari Pecinan Pontianak Chinatown Indonesia (PPCI) tersebut digelar menjelang perayaan Cap Go Meh 2022 pada Selasa (15/2/2022) mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK - Pecinan Pontianak Chinatown Indonesia (PPCI) didampingi Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Provinsi Kalimantan Barat, menjadikan alat musik tradisional sebagai sarana edukasi di kawasan Pecinan Kota Pontianak.

"Hari ini kami menggelar seni pertunjukan alat musik tradisional Tionghoa di kawasan Jalan Gajahmada, Kecamatan Pontianak Kota, yang juga sebagai sarana edukasi bagi warga Tionghoa," kata Pengagas Pecinan Pontianak, Herfin Yulianto di Pontianak, Senin (14/2/2022).

Baca Juga

Dia menjelaskan, selain sebagai sarana edukasi kearifan lokal warga keturunan Tionghoa, kegiatan tersebut juga sebagai bentuk pelestarian budaya yang berkaitan dengan pengembangan industri pariwisata. "Pertunjukan seni alat musik tradisional Tionghoa kali ini dengan melibatkan keturunan kesembilan dari para pendiri yakni sebagai upaya regenerasi atau proses pembelajaran dan pertunjukan ini juga terbuka untuk umum," ujarnya.

Menurut Herfin, mereka yang sudah mahir dalam memainkan alat musik tradisional juga mengajarkan permainan alat musik kepada adik-adiknya dan terbuka untuk non Tionghoa. Ketua ASITA Kalbar Ifan Ronaldo Barus mengatakan kegiatan ini adalah sebuah langkah yang luar biasa, karena berani memulai sebuah kegiatan kecil yang menampilkan sebuah budaya dan kearifan lokal.

"Karena kita tidak bisa membuang sebuah budaya atau kearifan lokal dari sebuah industri pariwisata karena ini sebuah hal yang berkaitan," katanya.

Ifan menuturkan, selain gagasan juga dibutuhkan kreativitas dan inovasi yang terstruktur dalam sebuah proses pelestarian budaya yang di dalamnya memuat unsur kearifan lokal. Hal tersebut agar seluruh upaya yang dilakukan bisa berdampak ke sektor lainnya, seperti pariwisata dan perbaikan ekonomi bagi warga setempat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement