Sabtu 04 Jul 2020 03:38 WIB

Permintaan Jasa Servis Sepeda Meningkat Selama Pandemi

Tren peningkatan servis sepeda terutama setelah PSBB pertama.

Mekanik sepeda memasang jari-jari roda sepeda mini lipat di sebuah bengkel sepeda rumahan. Ilustrasi
Foto: ANTARA/Destyan Sujarwoko
Mekanik sepeda memasang jari-jari roda sepeda mini lipat di sebuah bengkel sepeda rumahan. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, TULUNGAGUNG, JATIM -- Permintaan jasa servis sepeda di Tulungagung, Jawa Timur meningkat selama pandemi Covid-19 dua-tiga bulan terakhir. Itu seiring tren bersepeda untuk kebutuhan olahraga di tengah masyarakat, mengisi kekosongan waktu akibat libur sekolah, kebijakan WFH (work from home), maupun karena alasan menjaga stamina tubuh.

Hal itu sebagaimana diungkapkan salah satu pengusaha bengkel sepeda rumahan, Mardyan Angga Pratama (29).

"Tren peningkatan (jasa servis) terutama setelah lockdown pertama (ramai penerapan PSBB atau pembatasan sosial berskala besar yang tahap pertama)," tutur Angga, demikian biasa disapa, sambil tangannya terus merakit sepeda balap jenis speed allroad pada Jumat (4/7).

Angga sudah dua tahun menggeluti dunia jasa servis sepeda olahraga kelas menengah ke atas. Ia berusaha dengan memanfaatkan emperan depan rumah orang tuanya di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu.

Di bengkel rumahnya yang sederhana itu, berjajar belasan sepeda olahraga. Mulai jenis sepeda gunung, Dunhill bike, sepeda balap, BMX hingga sepeda lipat.

Melihat jenis, bahan baku serta mereknya, sepeda olahraga yang ditangani Angga atau Mardyan Angga Pratama bukanlah sepeda sembarangan.

Terdapat berbagai merek impor dengan harga puluhan juta hingga Rp 150 juta lebih.

Suku cadang yang dirakit pun tidak murah. Bisa mencapai belasan juta hingga puluhan juta per suku cadang ataupun per paket barang.

"Ini orderan rakitan sedang full (penuh). Dulu sebelum pandemi, permintaan jasa rakit begini sehari berkisar antara dua hingga tiga unit. Kadang juga cuma sehari. Tapi sekarang sehari bisa empat hingga enam-tujuh unit per hari," ujarnya.

Mardyan memang tak mengerjakan sendiri. Dia dibantu sang ayah, Jayadi, yang memang lebih dulu menekuni dunia perbengkelan sepeda kayuh.

Namun banyaknya permintaan jasa servis hingga rakit sepeda memaksa Angga untuk bekerja lembur hingga malam hari.

Terutama untuk pengerjaan servis ataupun rakit sepeda kelas premier, sulung dari tiga bersaudara ini harus menanganinya sendiri.

"Selain butuh penanganan ekstra karena menyangkut onderdil yang supermahal, proses pengerjaannya butuh ketelatenan dan keahlian khusus. Bapak juga bisa, namun untuk pengerjaan tertentu, konsumen meminta penanganan khusus (dari saya)," katanya.

Hasil dari jasa servis sepeda dirasakan Angga dan ayahnya, Jayadi, lumayan besar. Misal untuk rakit atau servis total sepeda gunung biasa, Angga mematok harga Rp 100 ribuan per unit.

Sedangkan untuk servis total atau rakit sepeda premium dengan harga puluhan juta hingga ratusan juta, biaya jasa yang dipatok Angga biasanya lebih tinggi. Antara Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribuan per unit.

"Kadang saya malah tak mematok harga ke pelanggan. Sukarela saja untuk pelanggan yang sudah biasa menggunakan jasa saya," katanya.

Angga dan Jayadi tidak menyebut omzet penghasilan bersih per pekan atau per bulan.

Namun jika dirata-rata per hari empat unit saja, dikalikan 26 hari dan jasa paling rendah Rp 100 ribu, Angga diperkirakan bisa meraup penghasilan antara Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per bulan.

Omzet pendapatan itu jauh di atas hasil penjualan jasa layanan servis dan rakitan sebelum pandemi yang berkisar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta per bulan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement