Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Puluhan Santri Positif, 2 Ponpes di Sleman Tutup Sementara

Rabu 30 Sep 2020 17:04 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas kesehatan melakukan pengambilan sampel tes usap/ SWAB di Pondok Pesantren. Ilustrasi

Petugas kesehatan melakukan pengambilan sampel tes usap/ SWAB di Pondok Pesantren. Ilustrasi

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Kedua ponpes diberikan waktu lima hari, sekaligus untuk terus melakukan tracing.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Sebanyak 47 santri dari dua pondok pesantren di Kabupaten Sleman terkonfirmasi positif Covid-19. Mereka terdiri dari 41 santri dari satu ponpes di Kecamatan Ngalik, dan enam santri dari satu ponpes di Kecamatan Prambanan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, kasus enam santri di Prambanan diawali satu santri yang baru melakukan perjalanan dari luar kota. Setelah diperiksa, ternyata santri yang bersangkutan positif.

"Kemudian, dilakukan tracing yang semula ke satu kamar (santri positif), lalu kita kembangkan tracing ke 50 santri lain, dan ditemukan tambahan lima santri lain positif, total ada enam," kata Joko, Rabu (30/9).

Kondisi serupa terjadi untuk kasus santri ponpes di Ngaglik yang juga berawal dari satu santri setelah kembali dari luar kota. Santri itu sebenarnya akhir Agustus sudah merasakan gejala, tapi tidak melakukan pemeriksaan.

Pada pertengahan September baru melakukan pemeriksaan, dapat pengobatan dan kondisinya membaik. Namun, pada 22 September 2020 lalu, santri itu mengalami gejala anosmia atau tidak bisa mencium dan mengecap, jadi diperiksa kembali.

Ternyata, kata Joko, pendataan di puskesmas setempat banyak pasien-pasien Covid-19 yang mengalami gejala serupa. Pada 25 September 2020, semua yang mengalami gejala baik ispa atau anosmia dilakukan rapid dianostic test.

"Dari 122 santri yang dirapid, ada 45 yang menunjukkan hasil reaktif, lalu dilakukan swab dan pada Senin (28/9) malam dikonfirmasi 41 positif Covid-19," ujar Joko.

Menurut Joko, kedua ponpes sebenarnya sudah menerapkan protokol kesehatan yang cukup baik. Namun, kondisinya cukup berubah beberapa waktu lalu usai pemerintah mulai berlakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.

Bahkan, keduanya termasuk 25 ponpes yang sudah mendapat izin untuk menggelar kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Dari total 145 ponpes yang ada di Kabupaten Sleman, ada 60 ponpes mengajukan dan cuma 25 yang diizinkan.

Izin itu sendiri artinya sudah melewati proses asesmen Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman. Saat ini, enam santri dari Prambanan diisolasi di Asrama Haji, sedangkan 41 santri dari Ngaglik diisolasi di lingkungan ponpes.

Itu dilakukan karena ponpes tersebut disebut sanggup menyediakan fasilitas isolasi mandiri. Joko mengungkapkan, pertimbangannya jika 41 bersama-sama dibawa ke Asrama Haji dikhawatirkan akan menimbulkan kegaduhan tersendiri.

"Akhirnya, kita cek di sana, tempatnya memadai, fasilitas memadai untuk isolasi mandiri. Untuk penutupan sementara, mereka menutup yang sendiri," kata Joko.

Sejauh ini, kedua ponpes diberikan waktu lima hari, sekaligus untuk terus melakukan tracing. Setelah itu, Dinas Kesehatan akan melihat perkembangan kondisi yang ada untuk menjadi pertimbangan tindakan selanjutnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA