Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Sultan Izinkan Hotel, Rumah Makan, Obyek Wisata Buka Kembali

Kamis 02 Jul 2020 16:30 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Andi Nur Aminah

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan HB X

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan HB X

Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Tidak ada pilihan selain membuka aktivitas ekonomi dan pariwisata di DIY.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mempersilakan kepada pemerintah kabupaten dan kota di DIY untuk membuka aktivitas ekonomi. Termasuk membuka aktivitas pariwisata di tengah pandemi Covid-19. Pertumbuhan perekonomian DIY sangat terdampak akibat pandemi ini. Ia menyebut, tidak ada pilihan selain membuka aktivitas ekonomi dan pariwisata di DIY. Ia menyebut, tidak ada pilihan selain membuka aktivitas ekonomi dan pariwisata di DIY.

"Memang ekonomi di Yogya (DIY) ini harus tumbuh dalam kondisi masih pandemi, tapi tidak ada pilihan. Saya komunikasikan dengan para bupati, bagi saya tidak ada masalah. Silakan buka kalau mau buka hotel, rumah makan, objek wisata dan sebagainya," kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (2/6).

Baca Juga

Menurutnya, pandemi Covid-19 ini belum dipastikan kapan akan berakhir. Sementara, perekonomian di DIY terus menurun dan sebagian besar perekonomian di DIY ini ditopang oleh pariwisata. "Walaupun nanti Covid ini (status tanggap) daruratnya dicabut, belum tentu Corona ini hilang. Mungkin sampai tahun depan kita masih harus menggunakan masker dan jaga jarak," ujarnya.

Walaupun begitu, pembukaan kembali aktivitas ini harus diiringi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Sultan menegaskan, hal ini dilakukan agar tidak terjadi gelombang kedua penularan Covid-19 di DIY.

Terutama pada aktivitas pariwisata, wisatawan yang datang tidak hanya dari DIY. Namun, juga dari daerah lain yang berpotensi membawa Covid-19.

Sebab, saat ini kasus positif Covid-19 di DIY masih terus bertambah. Rata-rata kasus positif merupakan kasus yang memiliki riwayat perjalanan dari luar daerah atau kasus impor. "Kalau ada yang positif, nanti bagaimana kita tracing (melacak). Dalam waktu yang sama, yang datang itu bisa orang Surabaya, Semarang, itu bagaimana kita akan tracing," ujarnya.


Silvy Dian Setiawan

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA