Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Banjir Bandang di Garut Diduga Akibat Alih Fungsi Lahan

Ahad 28 Nov 2021 11:49 WIB

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Ani Nursalikah

Banjir Bandang di Garut Diduga Akibat Alih Fungsi Lahan. Warga terdampak banjir bandang di Kampung Ciloa, Desa Sukamukti, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, sedang beristirahat usai membersihkan rumahnya dari sisa lumpur, Ahad (28/11).

Banjir Bandang di Garut Diduga Akibat Alih Fungsi Lahan. Warga terdampak banjir bandang di Kampung Ciloa, Desa Sukamukti, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, sedang beristirahat usai membersihkan rumahnya dari sisa lumpur, Ahad (28/11).

Foto: Republika/Bayu Adji Prihammanda
Sebanyak sembilan desa di Garut terdampak banjir bandang.

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Sebanyak sembilan desa di Kecamatan Sukawening dan Karangtengah, Kabupaten Garut, terdampak banjir bandang yang terjadi pada Sabtu (27/11). Sedikitnya, 312 KK terdampak akibat kejadian bencana itu.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum mengatakan berdasarkan keterangan warga sekitar, banjir bandang itu merupakan kejadian yang kali pertama. Sebelumnya, di wilayah itu tak pernah terjadi banjir bandang.

Baca Juga

"Tadi ada warga yang bilang sama saya, sudah 46 tahun baru kali ini terjadi banjir bandang," kata dia saat meninjau Kampung Ciloa, Desa Sukamekti, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Ahad (28/11).

Uu menyebut curah hujan yang terjadi saat ini memang dalam kategori ekstrem. Namun, menurut dia, banjir bandang tak mungkin terjadi hanya karena curah hujan yang ekstrem. Artinya, ada faktor lain yang menyebabkan terjadinya banjir bandang. 

Ia meilai, salah satu faktor yang menyebabkan banjir bandang adalah alih fungsi lahan. "Kalau resapan air tak terganggu, kemungkinan tak akan ada banjir bandang. Berarti ada alih fungsi lahan," kata dia. 

Uu mengungkapkan alih fungsi lahan yang terjadi bukan berarti dilakukan secara ilegal. Namun, ada alih fungsi lahan yang legal. Sebab, ia menyebut, 70 persen hutan di Jabar mengalami fungsi untuk sumber ekonomi. 

"Makanya sekarang kita sedang berpikir, alih fungsi ini diteruskan atau dievaluasi. Kita akan rapat untuk menentukan langkah agar kejadian ini tak terulang," ujar dia. 

Apalagi, Uu mengatakan, saat ini banyak alih fungsi lahan untuk kawasan wisata. Menurut dia, di beberapa daerah terjadi banjir karena di hulunya dijadikan tempat wisata.

"Itu akan akan kami evaluasi," kata dia.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA