Jumat 17 Jul 2020 19:52 WIB

Masalah Sampah di Kota Cirebon Belum Selesai

Volume sampah di Kota Cirebon mencapai 300-500 ton perhari.

Rep: lilis sri handayani/ Red: Hiru Muhammad
Tempat pembuangan sampah liar di Desa Panguragan Wetan, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, telah disegel untuk kepentingan penyidikan limbah medis, Kamis (14/12).
Foto: Republika/Lilis Sri Handayani
Tempat pembuangan sampah liar di Desa Panguragan Wetan, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, telah disegel untuk kepentingan penyidikan limbah medis, Kamis (14/12).

REPUBLIKA.CO.ID,CIREBON--Pemkot Cirebon mendapat bantuan Pusat Daur Ulang (PDU) sampah berkapasitas 10 ton perhari, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Meski demikian, keberadaan PDU itu belum mampu mengatasi seluruhnya masalah sampah di Kota Cirebon.

Bantuan PDU yang diberikan melalui Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah B3 (Dirjen PSLB3) itu diresmikan pada Jumat (17/7). Dirjen PSLB3 KLHK, Rosa Vivien, mengatakan, Pemerintah Pusat menargetkan hingga 2025 nanti mampu menangani permasalahan sampah sebanyak 75 persen. Selain itu juga mengurangi volume sampah sebesar 30 persen.

Menurut Rosa, program pengelolaan sampah terutama di kawasan pesisir telah masuk dalam kebijakan strategis dengan dukungan Peraturan Presiden (Perpres). Dalam peraturan tersebut, mengharuskan setiap daerah memiliki kebijakan strategis dalam penanganan sampah.

"Bantuan PDU sampah ini diharapkan dapat membantu Pemda untuk berkontribusi dalam penanganan sampah secara nasional," ujar Rosa, saat serah terima dan peresmian bantuan PDU Sampah di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Rosa mengungkapkan, tujuan adanya PDU Sampah adalah sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar mampu memilah sampah sejak dari rumah. Dengan demikian, sampah yang dibuang memiliki nilai ekonomis dan bisa memenuhi kebutuhan bahan baku industri nasional."Kebutuhan sampah yang sudah dipilah secara nasional cukup tinggi, dan itu belum terpenuhi. Makanya pernah ada kejadian kasus impor sampah," kata Rosa.

Rosa mengatakan, di masa pandemi seperti sekarang, penggunaan masker di tengah masyarakat mengalami peningkatan, yang berimbas banyaknya sampah masker. Untuk itu, dia berharap agar masyarakat memakai masker yang bisa digunakan berulang (masker kain)."Jika terpaksa memakai masker sekali pakai, agar dicuci terlebih dahulu atau disemprot disinfektan sebelum dibuang," kata Rosa.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Cirebon, Eti Herawati, menyebutkan, volume sampah di Kota Cirebon mencapai 300-500 ton perhari. Dia pun mengapresiasi bantuan PDU Sampah dari KLHK untuk membantu Pemkot Cirebon dalam menangani masalah sampah. "Kapasitas PDU Sampah ini hanya 10 ton/hari. Tapi setidaknya bisa meringankan beban Pemkot Cirebon dalam menangani sampah," tutur Eti.

Eti menambahkan, Pemkot Cirebon saat ini akan membangun pusat pengolahan sampah di Argasunya. Dengan menggunakan mesin dari Jerman, kapasitas pengolahan sampahnya lebih besar. "Rencananya kami juga akan mengeluarkan kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik untuk mengurangi sampah," kata Eti.

Kepala DLH Kota Cirebon, RM Abdullah Syukur, memaparkan, dengan adanya PDU Sampah bantuan KLHK itu, diharapkan masyarakat bisa teredukasi untuk memilah sampah sejak dari rumah. Dengan demikian,  ketika sampai di tempat pengolahan, sampah bisa langsung dipisahkan kemudian diolah."Gerakan bank sampah di tingkat RW juga terus dilakukan. Dari 258 RW, baru sekitar 20 RW yang berjalan," kata Syukur. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement