Selasa 18 Jan 2022 14:50 WIB

Rumah Warga yang Rusak Akibat Gempa di Pandeglang Bertambah Jadi 2.423

BPBD mencatat 2.423 unit rumah rusak di Pandeglang akibat gempa pekan lalu

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Warga melihat kondisi rumah yang rusak akibat gempa di Kadu Agung Timur, Lebak, Banten, Jumat (14/1/2022). BPBD mencatat 2.423 unit rumah rusak di Pandeglang akibat gempa pekan lalu.
Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas
Warga melihat kondisi rumah yang rusak akibat gempa di Kadu Agung Timur, Lebak, Banten, Jumat (14/1/2022). BPBD mencatat 2.423 unit rumah rusak di Pandeglang akibat gempa pekan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG - Jumlah rumah warga yang rusak akibat gempa dengan magnitudo 6,6 pada 14 Januari 2022 di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, bertambah menjadi 2.423 unit dari sebelumnya 2.224 unit. Angka ini diperoleh berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Menurut data BPBD, gempa menyebabkan362 rumah rusak berat, 526 rumah rusak sedang, dan 1.535 rumah rusak ringan di 171 desa yang tersebar di 30 kecamatan di Kabupaten Pandeglang. "Gempa juga menyebabkan kerusakan 43 gedung sekolah, 16 puskesmas, empat kantor desa, 15 masjid, dan tiga tempat usaha," ujar Kepala BPBD Pandeglang Girgi Jantoro, Selasa (18/1/2022).

Baca Juga

Girgi mengatakan BPBD akan mendata rumah warga yang rusak akibat gempa serta mengusulkan pengalokasian bantuan untuk memperbaiki kerusakan rumah warga ke pemerintah. Kerusakan rumah dan bangunan fasilitas umum terjadi di desa-desa di wilayah Kecamatan Sumur, Panimbang, Cikeusik, Cimanggu, Mandalawangi, Cibaliung, Sukaresmi, Munjul, Carita, Angsana, Pagelaran, Jiput, Saketi, Bojong, Cigeulis, Cibaliung,Banjar, Sobang, Majasari, Menes, Pulosari, Cisata,Labuan, Cibitung, Cimanuk, Cikeudal, Picung, Cipeucang, Patia, dan Kaduhejo.

Di antara rumah warga yang rusak akibat gempa ada rumah Darsih, warga Desa Kertamukti, KecamatanSumur. Dinding rumahnya sebagian retak akibat gempa sehingga dia bersama tiga anaknya untuk sementara mengungsi di rumah kerabat. "Kami lebih baik tinggal di rumah kerabat dulu sebelum diperbaiki karena khawatir roboh," kata Darsih.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement