Rabu 18 Aug 2021 08:54 WIB

Setelah Dipakai Jokowi, Permintaan Tas Koja Baduy Meningkat

Tas koja Badui diminati karena punya nilai keunikan dan seni serta ramah lingkungan.

Presiden Indonesia Joko Widodo, mengenakan pakaian tradisional Baduy, berdiri sebelum menyampaikan pidato tahunannya di depan anggota parlemen, menjelang Hari Kemerdekaan di gedung parlemen di Jakarta, Indonesia, 16 Agustus 2021.
Foto: EPA-EFE/BAGUS INDAHONO
Presiden Indonesia Joko Widodo, mengenakan pakaian tradisional Baduy, berdiri sebelum menyampaikan pidato tahunannya di depan anggota parlemen, menjelang Hari Kemerdekaan di gedung parlemen di Jakarta, Indonesia, 16 Agustus 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Permintaan tas koja Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten meningkat tajam hingga 60 unit dari normalnya lima unit per hari, setelah kerajinan khas yang dibuat dari kulit kayu itu dikenakan Presiden Joko Widodo.

"Meningkatnya permintaan itu dipastikan berdampak terhadap omzet pendapatan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) masyarakat Badui " kata Kubil.

Tingginya permintaan pesanan itu setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan busana Baduy dan tas koja. Para pembeli tertarik dengan koja karena memiliki nilai keunikan dan seni.

Selain itu juga tas koja sangat ramah lingkungan karena terbuat dari kulit pohon teureup yang terdapat di kawasan hutan adat masyarakat Baduy. Proses pembuatannya,kata dia, kulit pohon disayat tipis-tipis hingga menyerupai tali.

Selanjutnya, tali tersebut dijalin hingga menjadi tas namun terlihat lubang-lubang dan berbeda dengan tas terbuat dari kulit maupun pabrikan. Kelebihan tas koja juga memiliki fungsi beragam rupa, bahkan bisa menjadi tas sekolah hingga berbelanja.

"Kami menjual tas koja kini dijual Rp 50 ribu dari sebelumnya Rp 30 ribu/unit, " katanya menjelaskan.

Begitu juga Jali, perajin tas koja mengaku bahwa dirinya hari ini mendapat pesanan hingga 60 unit, sehingga merasa kewalahan untuk memproduksi kerajinan itu. Namun, pihaknya tetap dapat melayani permintaan pasar karena bisa mengambil dari perajin lainnya.

"Kami hari ini mendapatkan omzet Rp 3 juta dari 60 unit dengan harga Rp 50 ribu/unit, padahal sebenarnya hanya omzet Rp 40 ribu per hari ," katanya.

Sementara itu Amir, seorang perajin Badui mengaku bahwa saat ini permintaan tas koja meningkat tajam. Selama ini, tas koja banyak digunakan untuk keperluan berbelanja, sekolah, kuliah hingga kerja.

Tas koja tradisional masyarakat Baduy itu sangat kuat dan tahan lama karena menggunakan bahan alami itu. "Kami melihat tingginya permintaan tas koja setelah dipromosikan oleh Bapak Presiden Jokowi itu," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement