Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Polhut NTB Ungkap Modus Penyelundupan Kayu Hasil Perambahan

Kamis 17 Jun 2021 03:49 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Kayu selundupan dari perambahan hutan disita petugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kayu selundupan dari perambahan hutan disita petugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Foto: Dok KLHK
Pelaku menyembunyikan kayu hutan campuran dalam tumpukan karung sekam.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Polisi Kehutanan Nusa Tenggara Barat (Polhut NTB) berhasil membongkar penyelundupan kayu hutan yang diduga hasil perambahan liar di kawasan Gunung Tambora, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB.

Kasi Gakkum Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB, Astan Wirya mengatakan, pelaku menjalankan modus penyelundupannya dengan menyembunyikan kayu hutan campuran dalam tumpukan karung sekam.

"Jadi seolah-olah truk itu sedang mengangkut muatan hasil pertanian. Tetapi ternyata setelah kami periksa, di bawahnya ada kayu campuran dalam bentuk batangan," kata Astan di Kota Mataram, Rabu (16/6).

Penangkapan itu dilakukan oleh tim gabungan Polhut NTB bersama Balai KPH Rinjani Timur. Kayu diangkut dengan truk sedang berwarna kuning. Petugas menangkapnya ketika melintas di pos pemeriksaan Pelabuhan Kayangan, Kabupaten Lombok Timur.

"Hasil hutan kayu ini kami duga ilegal karena tidak dilengkapi dengan surat jalan. Dari interogasi, kami dapat informasi kayu ini dibawa dari Tambora," ujarnya.

Menurut Astan, Polhut NTB melakukan pengamanan terhadap sopir dan truk beserta barang angkutan ke kantor DLHK NTB di Kota Mataram. "Dari hasil pemeriksaan, ditemukan 126 batang kayu campuran jenis rajumas yang sebanding dengan volume 13 kubik," katanya.

Astan mengatakan pihaknya kini masih mendalami pemesan kayu tersebut. Begitu juga dengan tujuan penjualan dan nilai pemesanannya. Orang atau cukong yang berada di balik pengiriman kayu dari kawasan hutan itu menjadi target pengembangan di lapangan.

"Karena saat ini, wilayah NTB sedang moratorium penebangan maupun peredaran hasil hutan kayu. Kami duga kuat kayu ini hasil penebangan liar," ucap Astan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA