Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Kisah Satu Rumah Sempit dengan 13 Kepala

Ahad 08 Aug 2010 18:28 WIB

Red: irf

Gempa Sumatera Barat

Gempa Sumatera Barat

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG--Di antara pembaca mungkin ada yang merasa sesak tinggal di rumah tipe 36. Atau mungkin mulai cemas dengan kehadiran buah hati kedua dan ketiga karena terbayang rumah akan menjadi sempit dan penuh sesak. Sebelum mengeluh dan protes, patutlah kita tahu bahwa di Sumatera Barat sana, ada sebuah keluarga dhuafa, yang tinggal di sebuah rumah sempit nan kecil, dengan 13 orang penghuni di dalamnya. Satu orang di antaranya menderita penyakit saraf akut.

Dia tinggal Kota Padang, Sumatera Barat, tepatnya ke Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara. Di sekitar tempat ini masih banyak terlihat sisa-sisa musibah gempa September 2009 lalu. Rumah yang setengah miring, reruntuhan yang masih berserakan dan tenda-tenda lusuh yang di antaranya masih dihuni. Dengan pantai yang hanya berjarak selemparan batu dari sini, ancaman tsunami juga kerap membayangi warga setempat.

“Saya asli Payakumbuh. Sudah menetap di sini selama 45 tahun,” tutur Yusman (59) yang saat ditemui sedang duduk bersama dua cucunya di depan rumah papannya. Sehari-hari Yusman adalah nelayan yang biasa melaut di Pantai Patenggang, tak jauh dari rumahnya. Tergantung hasil tangkapan, Yusman kadang bisa menjual ikan senilai Rp 50 ribu dan kemudian segera habis untuk dimakan bersama istrinya, Elinar (42) dan 11 anggota keluarganya yang lain.

Yusman mengaku masih sering kesusahan walaupun dua anaknya yang laki-laki telah membantunya bekerja, masing-masing sebagai buruh bangunan dan tukang ojek. “Barang-barang kebutuhan semua mahal. Sementara penghasilan naik-turun tergantung nasib hari itu,” ujarnya berkaca-kaca ketika ditanya bagaimana rasanya menanggung hidup begitu banyak orang.

Kesedihan Yusman semakin bertambah karena anak keduanya, Susi (26), sudah 15 tahun terakhir mengidap “sakit saraf” yang tak kunjung membaik. “Anak kedua saya perempuan. Dulu dia sekolah, tapi sering pusing dan akhirnya akalnya tidak berjalan normal,” Yusman terdiam sejenak. “Sekarang saya pasrah, Susi hanya tinggal di rumah dengan adik-adiknya.”

Namun demikian, Yusman tidak lantas berdiam diri. Ketika ada kabar bahwa Dompet Dhuafa Singgalang membuka program STF (Social Trust Fund), Yusman segera mendaftar. Dan, setelah beberapa kali survei, Yusman dinyatakan layak meneriman bantuan modal Rp 1 juta untuk usaha.

“Alhamdulillah, saya sekarang dapat bantuan. Saya membuat becak motor untuk berjualan jajanan dan kopi. Istri saya yang dagang, biasanya ke daerah sekitar IKIP Padang (Universitas Negeri Padang) yang banyak mahasiswa,” katanya. Ketika ditanya apa cita-citanya, Yusman hanya menjawab lirih, “Anak saya yang sakit menjadi sehat dan saya bisa makan sekeluarga sehari-hari.”

sumber : dompetdhuafa
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA