Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Debudpar Akan Gelar Diskusi "Sangkan Paraning Dumadi"

Sabtu 11 Oct 2008 04:00 WIB

Red:

JAKARTA -- Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Departemen Kebudayaan dan Pariwisata akan menggelar diskusi mengenai "Sangkan Paraning Dumadi" atau asal-usul dan tujuan hidup manusia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada 13 Oktober 2008.

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Sulistyo Tirtokusumo di Jakarta, Jumat, mengatakan, "Sangkan Paraning Dumadi" merupakan salah satu dari tiga substansi ajaran dari para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dua ajaran lainnya yaitu "manunggaling kawulo gusti" dan "hamamayu hayuning bawono" atau etika dan budi luhur.

Menurut dia, diskusi tersebut merupakan diskusi rutin yang digelar setiap 35 hari sekali di Sasono Adiroso Pangeran Sambernyowo TMII. Dalam diskusi pada malam Selasa Kliwon atau malam Anggoro Kasih tersebut akan hadir sebagai pembicara adalah pendiri Yayasan Sirnagalih, Haris Suhyar.

Yayasan Sirnagalih selama ini dikenal sebagai organisasi yang bergerak dalam pengembangan peningkatan kualitas diri dan kesadaran manusia.

"Kami memilih Sirnagalih karena ini merupakan perkumpulan meditasi yang cukup signifikan dan ini juga untuk mengenalkan kegiatan Sirnagalih kepada para penghayat kepercayaan," katanya dan menambahkan bahwa Sirnagalih belum masuk menjadi salah satu aliran kepercayaan.

"Sangkan Paraning Dumadi", menurut dia, merupakan kondisi atau upaya seseorang untuk bisa mengetahui asal-muasal dan tujuan akhir hidup manusia. "Sangkan berarti permulaan, paran berarti tujuan dan dumadi adalah kehidupan," katanya.

Sebagai sebuah ajaran yang melekat di antara para penganut kepercayaan, Sulistyo mengakui bahwa masih ada sesuatu yang rahasia bagaimana sebenarnya sangkan paraning dumadi tersebut. "Ilmu itu kalau belum ketemu tentunya rahasia dan misteri," katanya.

Hal ini, lanjutnya, sama misterinya dengan pengertian tuhan dan manusia kemudian berupaya untuk meningkatkan pengetahuannya itu. "Ini sama seperti pandangan orang buta terhadap gajah, ada yang bilang seperti ular dan lainnya. Itu terjadi karena keterbatasan manusia dan kemahabesaran tuhan," katanya. (ant/ah)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA