Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Durratun NashihinMutiara Nasihat

Ahad 26 Jul 2009 12:46 WIB

Red:

KITAB

Sejumlah ulama dan peneliti hadis menyatakan dalam kitab ini terdapat banyak hadis palsu. Namun demikian, ia masih bisa digunakan sebagai keutamaan dalam beramal.

Sebagian besar santri pondok pesantren mengenal kitab Durratun Nashihin (Mutiara Nasihat). Di dalamnya, memuat berbagai nasihat dan petunjuk kehidupan yang dapat diamalkan oleh umat Islam. Bahkan, kitab ini merupakan salah satu kitab favorit di sejumlah pesantren. Tak hanya di Indonesia, kitab ini juga populer di Malaysia, Turki, dan India.

Kitab yang ditulis oleh Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiyyi (ada yang menyebut al-Khubawi atau al-Khubuwi, wafat pada 1824 M) ini nama lengkapnya adalah Durratun Nashihin fi Al-Wa'zhi wa al-Irsyad. Kitab ini ditulis sekitar abad ke-13 hijriah.

Secara umum, Kitab Durratun Nashihin yang tebalnya sekitar 288 halaman ini, memuat berbagai kisah (hikayat) maupun keutamaan-keutamaan dari setiap ibadah. Misalnya keutamaan puasa, keutamaan bulan Rajab, Sya'ban, Ramadhan, serta shalat sunat (tarawih, witir, dluha, tasbih, dan tahajud). Kemudian, di dalamnya tertulis keutamaan atau fadilah shalat berjamaah, menghormati orang tua, dan berzikir, yang didukung dengan ayat-ayat Alquran. Totalnya memuat sekitar 75 pasal (penjelasan) keutamaan yang berkaitan dengan setiap topik yang dibahas.

Dan, setiap keutamaan-keutamaan dari setiap ibadah itu disertai dengan berbagai kisah dan hikayat yang diambil dari beberapa kitab lainnya. Di antaranya Zubdat al-Wa'izhin, Tuhfah al-Muluk, Kanz al-Akhbar, Durrah al-Wa'izhin, dan Syifa' al-Syarif.

Penambahan kisah, cerita, atau hikayat yang dicantumkan pengarang Durratun Nashihin ini, tampaknya dimaksudkan agar keutamaan yang diterangkan atau pembahasan itu semakin menambahkan semangat bagi pembacanya untuk segera mengamalkannya.

Secara keseluruhan, Kitab Durratun Nashihin ini menghimpun sejumlah mutiara nasihat, peringatan, hikayat atau cerita menarik dan penjelasan hukum, serta permasalahan yang meliputi urusan dunia dan akhirat, namun sebagian besar bertolak dari sumber Alquran, hadis, ijma', maupun qiyas.

Dalam mukadimahnya, penulis kitab ini berkata: ''Aku adalah seorang hamba yang haus akan rahmat Allah SWT, menetap di sebuah kota bernama Konstantinopel, dan hanya berharap semoga Allah SWT selalu melindungi negeri kami dan negeri-negeri lainnya dari segala bencana dan bahasa. Amien.''

Dari pernyataan Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Khaubawiyyi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa yang bersangkutan berusaha membantu dirinya dan pembaca kitab ini untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Banyaknya nasihat, peringatan, dan fadilah (keutamaan) yang terdapat dalam kitab ini, banyak santri maupun juru dakwah (dai) yang memanfaatkan sebagian dari isi kitab ini untuk disampaikan kepada umat (masyarakat).

Salim Bahreisy, misalnya, yang menerjemahkankan kitab ini dalam dua jilid mengatakan, tema-tema yang terkandung dalam kitab ini dapat dijadikan rujukan sebagai salah satu sumber bahan ajaran agama dan syariat yang akan sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin berdakwah. Dan karena itu pula, Salim Bahreisy menamakan kitab ini dalam terjemahannya sebagai bekal untuk juru dakwah.

Tak hanya terjemahan dari Salim Bahreisy, Kitab Durratun Nashihin ini juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Di Indonesia sendiri, sedikitnya terdapat tujuh buah terjemahan, dan yang pertama kali adalah terjemahan oleh Salim Bahreisy.

Misalnya, pada pasal satu, Syekh Utsman menguraikan masalah keagungan bulan Ramadhan. Lalu pada pasal kedua, dibahas masalah pahala berpuasa. Selanjutnya, tentang keistimewaan bulan Ramadhan, celaan memakan riba, keutamaan bertaubat, keutamaan dan keagungan bulan Rajab, tercelanya peminum khamar, keterangan mencari rezeki, dan diakhiri dengan Mi'raj Nabi Muhammad (pasal 32).

Selanjutnya, pada terjemahan dari Salim Bahreisy, jilid kedua dimulai dengan pembahasan keagungan manusia, kebajikan bersahabat, tercelanya berbuat maksiat, kisah kesabaran Nabi Ayub AS, dan diakhiri dengan pahala membaca surah Al-Ikhlas.

Bukan Kitab Fikih

Karena itu, bila dilihat secara keseluruhannya, kitab ini tidak menerangkan masalah akidah (tauhid), fikih (syariat), atau tasawuf. Isinya lebih banyak mengupas masalah anjuran, peringatan, dan ancaman.

Di antara nasihat yang dikemukakan pengarang adalah tentang keagungan manusia. Mengutip ayat ke-70 surah Al-Isra, dijelaskan, ''Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.''

Untuk menambah penjelasan tentang maksud dari ayat tersebut, penulis mengutip keterangan atau hikayat dari Kitab Hayat al-Qulub. Diriwayatkan bahwa Amr bin Ka'ab dan Abu Hurairah RA bertanya kepada Rasulullah SAW; ''Siapakah yang paling alim di antara manusia? Rasul berkata: ''Orang yang berakal. Siapa yang paling saleh (ahli ibadah)?'' Orang yang berakal.'' Siapa yang paling mulia?'' ''Orang yang berakal.'' Segala sesuatu ada alatnya, dan alatnya orang mukmin adalah akalnya. Dan bagi tiap kaum ada pemimpinnya, dan pemimpin seorang mukmin adalah akalnya. Dan tiap kaum mempunyai tujuan, dan tujuan hamba Allah adalah akal.''

Masih mengutip dari Hayat al-Qulub, Siti Aisyah berkata: Akal terbagi dalam 10 bagian, lima yang nyata dan lima yang tidak nyata. Adapun yang nyata ialah membisu, bersabar, rendah hati, amar makruf nahi munkar, dan amal saleh. Sedangkan yang tidak nyata ialah berpikir, beri'tibar, tidak meremehkan dosa, takut pada Allah, dan mengekang hawa nafsu.''

Itulah di antara sifat manusia. Bila akalnya mendapatkan hidayah, ia akan membimbing hawa nafsunya ke jalan yang benar. Sebaliknya, bila akalnya mendapat bisikan dari setan, hal itu akan membawa hawa nafsunya pada perbuatan dosa dan maksiat. sya/berbagai sumber

Banyak Hadis Palsu dan Lemah

Diakui banyak pihak, Kitab Durratun Nashihin (Mutiara Nasihat) ini sangat besar manfaatnya bagi umat untuk meningkatkan amal ibadah. Nasihat-nasihat yang ditambah dengan sejumlah cerita atau hikayat, dimaksudkan agar umat makin giat, bersemangat, dan rajin menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

Namun demikian, kendati isinya banyak mengandung nasihat dan pelajaran bagi umat, menurut sejumlah ulama dan peneliti hadis, di dalam kitab ini terdapat hadis maudlu (palsu) dan dlaif (lemah).

Seperti dikemukakan oleh Prof Dr Jawiah Binti Dakir PhD, guru besar ilmu hadis dari Universitas Kebangsaan Malaysia, didalam Kitab Durratun Nashihin banyak sekali terdapat hadis-hadis palsu dan lemah.

Hal yang sama juga diungkapkan Luthfi Ahmad Fathullah, seorang peneliti dan ahli hadis. Berdasarkan kajiannya terhadap kitab ini yang termuat dalam disertasinya, Luthfi mengungkapkan, sekitar 30 persen dari 839 hadis yang terdapat dalam dalam Kitab Durratun Nashihin adalah masuk kategori palsu. Penjelasan ini pernah dimuat dalam Panji Masyarakat Edisi Nomor 32 Tahun III, pada 24 November 1999 silam.

Dalam salah satu pasal, Syekh Utsman (pengarang Kitab Durratun Nashihin) menulis sebuah ungkapan. ''Seseorang yang merasa punya dosa sebesar dan seberat apa pun, maka bersalawatlah kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 100 kali setiap Jumat. Niscaya Alah akan mengampuni dosa-dosamu.''

Menurut Luthfi Ahmad Fathullah, hadis tersebut adalah palsu. ''Hadis ini tidak dikenal perawinya dan tidak jelas sumbernya,'' ujar Luthfi.

Hadis lainnya yang juga palsu dan dimuat dalam Kitab Durratun Nashihin adalah tentang puasa. ''Misalnya, hadis Shuumu tashihhu (berpuasalah niscaya kamu akan sehat). Ini adalah hadis palsu.''

Dalam penelitiannya, dari 839 hadis tersebut, hadis yang palsu sebanyak 30 persen. Perinciannya, 251 hadis palsu (30 persen), lemah (dlaif) sebanyak 180 (21,5 persen), amat lemah 48 (5,7 persen), belum dapat dipastikan sebanyak 56 (6,7 persen). ''Yang terakhir ini dikategorikan demikian karena hadis-hadis tersebut tak dikenal perawinya. Atau, bila dikenal, sanadnya tak diketahui,'' jelasnya.

Adapun hadis yang sahih sebanyak 204 (24,3 persen), shahih lighairihi sebanyak 12 (1,4 persen), isnad-nya shahih dua hadis (0,2 persen), hasan sebanyak 67 buah (delapan persen), dan hasan lighairihi 19 hadis (2,2 persen).

Boleh Digunakan

Namun demikian, kendati terdapat berbagai hadis palsu dan lemah, Prof Jawiah mengatakan, sebagai fadlai'il al-amal (keutamaan untuk beramal), masih diperbolehkan digunakan dengan berbagai ketentuan (syarat).

Ia mengatakan, munculnya hadis-hadis palsu itu terjadi setelah Rasulullah SAW wafat. Agar umat rajin beribadah, kata dia, ditambahlah kalimat-kalimat keutamaan maupun ancaman.

Luthfi menjelaskan, dari 839 hadis itu yang boleh digunakan sebanyak 484 (57,7 persen), tidak boleh digunakan sebanyak 336 (40,2 persen), dan tak dapat dipastikan sebanyak 18 (2,1 persen).

Dan, karena itu pula, Luthfi tidak setuju bila Syekh Ustman bin Ahmad asy-Syakir Al-Khubawiyyi ini diberi julukan sebagai Syekh, Al-Allamah atau al-Imam, sebagaimana ditulis Ismail Basya, penulis biografi Al-Khubawiyyi.

Sementara itu, Umar Ridha Kahhalah memuji pengarang Kitab Durratun Nashihin ini dengan julukan al-Wa'izh (pemberi nasihat), mufassir (ahli tafsir), dan muhaddits (ahli hadis).

''Saya setuju, pengarang kitab Durratun Nashihin diberi gelar dengan al-Wa'izh (pemberi nasihat). Karena memang demikianlah isi dari Kitab Durratun Nashihin,'' tegasnya. sya/berbagai sumber

Fadilah Bulan Ramadhan

Sebagaimana diterangkan bahwa banyak hadis-hadis palsu yang termuat dalam Kitab Durratun Nashihin, di antaranya tentang masalah puasa dan keutamaan bulan Ramadlan, Mohd Hairi Nonchi, dosen Pendidikan Sains Sosial di UMS, menuliskan beberapa hadis sahih yang bisa diamalkan pada bulan Ramadhan.

''Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala daripada Allah, dosanya yang telah lalu telah diampuni (oleh Allah).'' (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman Nomor 38)

''Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.'' (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Shaum, Nomor 1894)

''Sesungguhnya di surga terdapat pintu yang dinamakan al-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu pada hari Kiamat. Tidak ada seseorang pun yang akan masuk melalui pintu ini kecuali mereka. Dikatakan: Mana orang-orang yang berpuasa? Lalu, mereka semua berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu ini selain mereka. Apabila mereka semua telah masuk, pintu ini akan ditutup dan tidak ada seorang pun yang akan masuk melaluinya.'' (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Shaum, Nomor 1896).

''Setiap amal kebaikan anak Bani Adam pahalanya (dicatat oleh malaikat) kecuali puasa. Sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang memberi pahala puasanya.'' (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Libas, Nomor 5927)

Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani berkata mengenai hadis tersebut di atas: ''Ibadah puasa ini dianggap sebagai ibadah khusus untuk Allah karena ia bebas daripada unsur ria. Karena, pelaksanaannya tidak dapat dilihat oleh mata kasar manusia. Orang yang sedang berpuasa dan orang yang tidak berpuasa sama saja dari segi luarnya. Berbeda dengan ibadah seperti shalat, membaca Alquran, berzikir, atau bersedekah yang perbuatannya dapat terlihat. Sehingga, membuka ruang menjadi ria.''

Al-Qurthubi berkata, ''Semua amal perbuatan dapat dimasuki unsur ria, sedangkan puasa itu hanya dilakukan semata-mata karena Allah. Jadi, tidak mengherankan bila Allah menisbatkan ibadah puasa itu untuk diri-Nya.'' (Lihat penjelasan Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Baari, jilid 11, halaman 20). sya/dikutip dari al-muwahhidun

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA